–perbincangan dengan perempuan yang dilacurkan.
Aku menemuinya dalam gelap, kala bulan di langit berwujud tak lengkap.
Namanya Rina. Hanya Rina. Setidaknya begitulah dia memperkenalkan diri kepadaku. Rambutnya tergerai lurus sebahu. Lumayan tinggi badannya, mungkin sekira 160 cm. Berat tubuhnya proporsional dengan tinggi badannya. Umurnya aku tak tahu pasti. Mungkin 30 tahun.
Aku menemuinya di keremangan malam di sebuah kota di pinggiran Jawa Timur. Kala itu, aku baru saja mampir ke sebuah warung, dan seorang pria paro baya dengan mulut bau alkohol menghampiriku.
Jam di ponselku menunjukkan angka 00.25 WIB. Aku memesan secangkir kopi. Pria itu, dengan kumis tipis dan mata memerah, juga memesan kopi.
”Gelem (mau), Mas?” katanya menawariku sesuatu yang tak jelas. Namun, lirikan matanya mengarah ke dua orang perempuan di pojokan warung. Keduanya bercanda dengan tawa renyah yang sangat lepas.
Ya, bapak itu tengah menawarkan perempuan. Jual-beli: dia makelar dan aku calon pembeli. Barangnya ya kedua perempuan itu.
”Berapa, Pak?” tanyaku.
”Yang mana?”
Aku diam sejenak, memandang kedua perempuan itu. ”Yang pakai jaket biru, yang rambutnya sebahu,” kataku.
Pria itu mengangkat satu jari telunjuknya. ”Seratus.”
Aku tak tahu apa tarif itu terlalu mahal atau tidak. Mungkin dia tahu aku tak pernah singgah ke situ, jadi tak jadi soal jika diberi tarif di atas harga sehari-harinya.
”Seratus ribu itu sampai pagi, Pak?” tanyaku sambil tertawa.
”Tambahi Rp 30 ribu,” katanya mengacungkan jari manis, telunjuk, dan tengahnya.
Kuiyakan saja harga yang ditawarkannya. Kupikir tak jadi soal. Pagi harinya, sebelum malamnya aku singgah di warung itu, aku baru tahu sebuah koran terbitan Jakarta menurunkan tulisanku. Lumayan, ada honor baru masuk rekening. Dan berarti aku punya nafas lebih panjang dalam perjalananku ke sejumlah kota dalam beberapa pekan depan. Dus, tarif tak jadi soal. Lagipula, aku canggung menawar karena tak tahu harga pasaran. Kalau kutawar terlalu rendah, bukan tak mungkin sang bapak yang jadi makelar bakal tersinggung.
”Sama kamarnya Rp 200 ribu. Mau?” kata si bapak sambil menunjuk losmen kelas teri sekira 50 meter dari warung itu.
”Ya. Aku habiskan kopi dulu. Bapak dan dia ke sana saja dulu. 10 menit lagi aku nyusul.”
Kuhabiskan kopi dengan rasa terheran-heran, bagaimana bisa aku memesan perempuan. Ini pertama kalinya dalam hidupku. Aku tersenyum kecil. Kupasrahkan satu jam, dua jam, atau tiga jam ke depan pada waktu. Entah apa yang akan terjadi. Hadir dan mengalir saja.
Kuayunkan kaki ke losmen itu. Di pintu masuknya (jangan bayangkan seperti pintu masuk hotel berbintang lengkap dengan petugas yang memeriksa pengunjung dengan metal detector) hanya ada sebuah papan kecil dengan jejeran huruf berbunyi ”selamat datang”. Cat putih di papannya sudah terkelupas di sana-sini.
Di lobinya (juga jangan bayangkan seperti lobi hotel berbintang dengan petugas yang supermanis) hanya ada meja kecil dan deretan laci-laci. Sebuah buku kumal tergeletak di atas meja dengan empat kaki yang sudah tampak ringkih. Taplak di atas mejanya sangat kusam. Ada seorang pria tua dengan kretek di mulutnya menunggu dengan setia.
”Mas, ayo ke sini,” kata pria yang jadi makelar.
Gerakku yang tampak canggung mengundang tawa dari pria tua yang menunggu lobi losmen itu.
Kamar nomor 16. Kunci diserahkan makelar tadi, dan dia pamit sambil meminta pembayaran. Kubuka pintu, perempuan itu menyusulku masuk ke kamar.
Ukuran kamarnya sempit, hanya 3×4 meter. Tak ada AC. Hanya ada satu meja kayu lengkap dengan kursinya. Di tembok ada kipas angin yang ditempel. Tapi, kasurnya lumayan empuk. Berderit ketika aku mendudukinya.
Jujur, aku bingung setengah mati bagaimana membuka obrolan. Seperti sudah tahu kecanggunganku, perempuan berjaket biru berbahan jins itu membuka obrolan. ”Gimana, Mas?”
”Apanya yang gimana?” aku menjawab sekenanya.
Kubuka sepatu, kutaruh tas tepat di pinggir ranjang. Aku duduk di tepi ranjang. Dia mengikutiku. Sedikit basa-basi di awal akhirnya aku tahu namanya Rina.
Kuamati dia. Baunya wangi, tapi terlalu menyengat. Bedaknya, meski tebal, tak terlalu menor. Tampak pas dengan lipstik warna merah muda yang dilaburkan tipis ke bibir mungilnya. Di leher terlingkar sebuah kalung dengan mata huruf R. Itu semua membuat senyumnya tampak selalu pas.
”Ngobrol dulu saja ya, Mbak,” pintaku. ”Panas ya, Mbak.”
”Nyalakan saja kipas. Tarik talinya itu,” jawabnya tanpa basa-basi.
Aku berdiri, kutarik tali di kipas, dan berputarlah baling-baling sederhana itu.
”Baru pertama, ya, Mas?”
”Ya,” kuanggukkan kepala.
”Pantesan.”
”Pantes gimana?” aku mencoba untuk tampil percaya diri.
”Nggak pernah melihat sampeyan ke sini. Lagian lha sampeyan bingung begitu,” katanya.
Di luar kudengar ada tawa seorang perempuan. Tawa yang nyaring. Sesaat kemudian kudengar suara pria berdehem. Dari kamar sebelah kudengar ranjang berderit dengan cepat diiringi nada halus erangan (atau pura-pura mengerang?) seorang perempuan.
Aku mencoba mengendalikan situasi. ”Eh, lampunya dimatikan atau dinyalakan, Mbak?” tanyaku.
Dia masih sangat cuek. ”Terserah. Nyala bisa, mati pun tak masalah.”
Aku mematikan lampu. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin Rina menangkap ekspresi canggungku di kamar.
Kini aku tak lagi duduk di tepi ranjang. Aku sudah rebah di ranjang. Dia mengikutiku, tapi dengan gerakan yang dibuat menantang. Rina tidur miring dengan kepala disandarkan pada salah satu tangannya.
”Asalnya mana, Mbak?” aku kembali membuka obrolan.
”Nggak penting bagi sampeyan.”
”Sudah lama, Mbak, bekerja di sekitar sini?” Pertanyaanku yang terakhir ini ternyata keliru. Dia marah.
”Sampeyan siapa, sih? Aku di sini kerja bukan untuk diwawancarai. Sampeyan wartawan, ya?” kata Rina setengah membentak.
”Bukan, bukan. Saya bukan wartawan. Demi Allah.” Aku tak kuasa menahan kegugupan.
Dia lantas bercerita pengalaman pahitnya. Dulu, dia mengaku pernah disewa orang dan ditanyai macam-macam. ”Ternyata orang itu mahasiswa yang sedang bikin tugas kuliah, bikin skripsi. Asu tenan! Awas yo kalau sampeyan ternyata cuma menyaru jadi pelangganku.”
Dia sepertinya ingin segera ”bekerja”. Ya, hubungan seks bagi dia adalah pekerjaan, bukan ritus. Jika ada rentang diametral, bolehlah dikatakan bahwa pekerjaan adalah melulu profan dan ritus adalah sesuatu yang sakral. Ah, tak tahulah jika urusan begituan dianggap berlebihan jika dinobatkan sebagai sebuah ritus. Yang kuingin tekankan, Rina adalah bagian terpenting dari upaya menyucikan seks dari daya hipokrit manusia, dan memaknai hubungan seks yang selama ini penuh nafsu kebinatangan menjadi lebih adimanusiawi.
Hubungan seks, sebagai sebuah tindakan yang harus direpresi kekayaan wujudnya demi sebuah kemudahan komunikasi bahasa untuk memberi umbul nama, adalah perkara yang sifatnya arbitrer (arbitrary, manasuka). Rina dan hubungan seks adalah materi yang tak tepermanai; betapa luas maknanya, lengkap ada hikmah dan sederet cela-dosa. Mencoba mencerna maknanya, juga dalam diri pribadi Rina, ibarat kita sedang mencoba menyimpulkan—meminjam istilah Anthony Giddens—sebuah dunia yang tunggang-langgang tak keruan (runaway world).
”Sudahlah, Mas, kita mulai saja. Aku mau cepat pulang. Sudah capek malam ini.”
”Sudah berapa orang malam ini?” tanyaku masih mencoba mengulur waktu.
”Dua. Tiga sama sampeyan,” jawabnya ketus.
Dalam hati aku merasa ingin obrolan ini terus berlanjut. Entah besok berlanjut ke rumah makan atau di mana pun yang membebaskan kami berbincang. Entah mengapa, aku merasakan ada cinta yang melampaui segala rasa dan representasi tentang hubungan dua manusia.
Sungguh aku berharap akan menemukan kisah bahwa Rina adalah seorang perempuan yang dilacurkan, dan kemudian menantang angkara dunia. Dia kubayangkan menjadi perempuan pelacur yang sadar-diri. Rina kuharapkan menjadi perempuan pelacur yang menjebol tembok patriarki, mengacaubalaukan tatanan sosial-agama yang selalu mengutuki dirinya.
Aku ingin terus berbincang dengan dirinya untuk menemukan dia dalam subyek yang otonom atas tubuhnya sendiri.
Dan kini asa itu nyaris mewujud. ”Anakku masih kecil, Mas. Aku kangen, pengin cepat pulang. Aku capek dengan dunia ini. Ayo cepat dimulai saja.” Dia mengucapkannya dengan nafas tertahan. Kurasa dia bukan mengiba, tapi dia tulus berucap itu.
Aku lantas berdiri. Menyalakan lampu. Ingin melihat ekspresi wajahnya.
Dan dia pun membuka jaket sangat ketat yang membalut tubuh rampingnya. Dia tersenyum. Senyum yang entah tulus atau dibuat-buat. Aktivitas Rina itu hambar, mekanis. Saban melayani tamu pasti dia melakukannya, hingga menjadi rutinitas. Tak ada kesyahduan, nirsakral, dan kikir substansi.
Dibukanya kancing jaket satu demi satu. Saya hanya diam melihat dia semakin mendekat ke diriku. Ada bunyi deritan ketika dia sudah naik ke atas ranjang.
Jaketnya terlepas. Rina hanya mengenakan kaos ketat berwarna putih. Aku melihat ada bunga mawar di dadanya…
[re-post. ini tulisan lama lebih dari dua tahun silam]