UNTUK kesekian kalinya, kiriman kartu pos dari seorang teman tiba di rumah. Beberapa teman sangat hobi mengirim kartu ke saya: London, Missouri, Yogyakarta, Hanoi, Makassar, Medan, atau Tokyo. Berlatar danau, gunung, air terjun, gereja, sampai burung dara. Beberapa saya simpan, beberapa lagi belum sempat terdokumentasi dengan rapi.
Saya sendiri tak hobi berkirim kartu pos. Pernah kuniati untuk rutin mengirim kartu pos saat singgah di sebuah tempat, tapi selalu saja niat itu gagal terwujud. Mungkin saya malas. Mungkin saya memang tak sungguh-sungguh berniat. Mungkin saya juga tak berjiwa seni. Lagipula, apa urgensinya?
Tapi demikianlah kartu pos itu datang ke rumah saya. Nyaris semuanya tanpa saya minta. Mungkin sang pengirim ingin menunjukkan persahabatan. Beberapa kartu pos membuat saya gembira dan terharu, seolah mengingatkan bagaimana awal tradisi penerbitan kartu pos ini dimulai di Austria pada 1869. Sebuah kartu yang dilayangkan ke tanah seberang, ke kota yang ada nun jauh di sana. Sebuah kartu yang merepresentasikan pengirimnya, sebuah kartu yang seolah bisa berkata: hei, saya sedang di London; brother, saya sedang makan coto makassar; pren, gue lagi menyusuri Sungai Chao Phraya nih.
Tapi beberapa kiriman gagal membuat saya merasakan apa-apa. Mungkin karena saya tak sensitif. Mungkin karena saya merasa kartu posnya tak punya kekhasan.
Tapi demikianlah kartu pos itu datang ke rumah saya. Selalu berupaya membereskan jarak dan waktu antara kau yang di sana dan aku yang di sini. Hampir semuanya gagal.