Goa

Patung Made Byasa

MADE BYASA menggali tanah berbatu kapur itu tanpa kenal lelah. Lima belas tahun lamanya, mulai 1961 hingga 1976. Dimulai ketika usianya 72 tahun hingga 87 tahun. Usia yang tentu saja tak muda untuk urusan menghujamkan linggis ke tanah berbatu kapur.

Byasa seorang pertapa, dalang, dan petani. Tapi mungkin ia juga seorang seniman. Di liang ini, di Goa Gala, terdapat relief tentang proses pembuatannya. Sedikit kabur, tak jelas, beberapa sudah terkikis dimakan usia. Yang agak sedikit tampak adalah gambar manusia, gajah, kura-kura, dan gores pintu. Seorang penduduk lokal yang kutanyai menjelaskan maknanya dengan merujuk pada penanggalan Hindu. Gambar-gambar itu merujuk pada 1898 tahun Saka, yang berartu tahun 1976 pada kalender Masehi.

Konon, Byasa membangun tempat ini karena terinspirasi epos Mahabarata, di mana dalam salah satu sekuelnya disebutkan Pandawa membuat semacam bunker untuk berlindung dari kejaran Kurawa. Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa juga selamat karena berlindung di tempat ini saat dikejar Kurawa. Goa atau bunker itu disebut ”Gala-Gala”.

Byasa menggali liang itu lalu membentuknya dalam ruang-ruang yang nyaris presisi dengan sebuah rumah : ada semacam pintu masuk, ruang bertamu, kamar tidur, dan dapur. Byasa memang kerap bermeditasi di liang seluas 500 meter persegi ini hingga akhirnya ia wafat pada 1984 dalam usia 95 tahun. Byasa wafat di dalam liang yang ia gali dengan tenaga penuh seluruh. Sekira 10 meter dari pintu masuk goa tersebut, dibangun patung Byasa dalam balutan kain putih.

Berbeda dengan Cu Chi Tunnel, terowongan tempat pasukan Vietnam bertempur melawan agresi imperialis, yang sudah dipermak di sana-sini, Goa Gala yang dibikin Byasa masih alami. Dindingnya masih berbatu kapur. Kalau pun ada tambahan hanya sedikit deret kayu untuk pegangan pengunjung.

Goa itu terletak di Nusa Lembongan, Klungkung, Bali. Lembongan terletak dua kilometer arah barat laut dari Nusa Penida. Dari Bali daratan, Lembongan dipisahkan oleh Selat Badung. Pantainya bersih, airnya jernih. Saya menjejak ke sana lewat Pelabuhan Benoa. Butuh sekira 90 menit dari Pelabuhan Benoa dengan menggunakan kapal wisatawan yang juga sekaligus menyediakan paket wisata air di pinggiran pantai menuju Nusa Lembongan.

Dari semacam anjungan di pinggiran pantai, tempat wisatawan bersantai dan menjajal permainan air, ada perahu motor kecil yang akan mengantar ke daratan Nusa Lembongan. Dari sana, ada mobil dengan bak terbuka yang akan mengantarkan pengunjung berkeliling Nusa Lembongan: mengunjungi penjaja kerajinan, para petani rumput laut, dan tentu saja Goa Gala yang dibikin Made Byasa.

Goa itu, liang yang digali selama ratusan kali purnama, kini hanya jadi ornamen sebuah paket wisata. Tak ada sikap meditatif saat memasuki liang itu. Hanya tampak kilatan kamera di sana-sini. Sepasang turis Perancis meminta tolong saya untuk mengambil gambar mereka berdua saat berangkulan dan saling mengecup mesra.

Hey, tapi ini mungkin sebuah zaman di mana untuk urusan menyembulkan Yang-Sublim tak harus dilakukan lewat proses penziarahan yang senyap di goa dan pura. Ini zaman ketika komodifikasi tentang berbagai hal meruyak di sana-sini. Ini zaman ketika perencanaan penanggulangan kemiskinan dirapatkan di kafe dan pusat perbelanjaan. Ini zaman ketika kita tak memahami bahwa dengan pengeluaran di atas Rp233.740 sebulan, orang sudah tak lagi dianggap miskin di Indonesia. Ini zaman ketika hidup tak mengenal jeda, bahkan lewat kunjungan ke sebuah goa.

Di atas dek kapal yang membawa saya kembali ke Bali daratan, bersama kopi yang tinggal ampas di dasar gelas, saya merasa diri ini kelewat naif…

Printed from: http://jelangfajar.com/2011/07/goa.html .
© 2012.

17 Comments   »

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Reply

  • tapal

    ”Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana...” (Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam)