PADA MULANYA adalah ikhtiar untuk berbuat jujur. Namun, ia tak bermuara pada jalan yang mudah dilewati, tapi malah harus menemui jalan gelap nan berkelok. Itulah yang kini dihadapi dan dialami oleh Ny Siami, ibu bersahaja yang menyita perhatian kita dan media massa dua pekan terakhir.
Berikhtiar mengungkap fakta brutal ”konspirasi” lewat mata rantai contek-mencontek dalam ujian di sekolah anaknya, Ny Siami justru ditempatkan dalam posisi pesakitan. Ia justru dihujat, didemo, dicaci-maki, hingga diusir dari kediamannya oleh mayoritas orangtua siswa yang entah memakai logika apa hingga mampu melakukan perbuatan menyedihkan itu.
Fenomena Ny Siami menunjukkan kepada kita betapa sikap antikejujuran tidak hanya telah menyebar ke sekujur tubuh masyarakat, tapi juga telah menjadi patologi sosial yang akut dan teramat susah disembuhkan. Kita telah kehilangan definisi tentang arti kejujuran, tentang arti kerja keras sebelum mencapai tujuan.
Ny Siami merepresentasikan sebuah fakta bahwa kita telah memasuki ”zaman edan”. Aksioma ”jujur tambah ajur (hancur)” menjelma menjadi fakta brutal nan pahit yang harus kita telan hari ini.
Proyek manusia Indonesia, yang antara lain banyak diwarnai oleh kehadiran lembaga agama, telah hancur dan lebur menjadi serpihan-serpihan yang menguras air mata.
Apa yang terjadi pada Ny Siami hanya satu serpihan dari beribu serpihan wajah manusia Indonesia hari ini. Kita akan lebih mudah menemui seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mencoba berbuat jujur malah akan dijauhi koleganya. Kita akan lebih mudah menemui orang baik malah disia-siakan dan disingkirkan oleh orang-orang di sekitarnya. Bohong dan korup telah menjadi, meminjam terminologi Kuhn, ”ilmu pengetahuan normal”, sesuatu yang lazim seperti halnya kita makan, minum, dan bernafas setiap hari.
Fenomena Ny Siami, jika ditarik lebih jauh lagi, adalah cermin sahih tentang betapa negeri ini sudah mengalami degradasi dan devaluasi ide kejujuran yang sangat serius di semua lini. Tak lain ini adalah cermin dari perilaku elite negeri ini yang kian mendustakan amanat penderitaan rakyat.
Politik kita adalah politik akal bulus, politik yang diwarnai dengan lidah yang tak bertulang, korupsi berbarengan, dan gotong-royong penuh penipuan. Ekonomi kita adalah ekonomi kuras-habis, praktik ekonomi yang culas dan menyingkirkan warga miskin dari sumberdaya yang bisa membuat mereka menjadi lebih mandiri dan beradab.
Kehidupan sosial kita adalah kehidupan penuh tipu-daya. Yang merasa paling benar sendiri membakar, membunuh, dan mencampakkan mereka yang dianggap sesat. Laku keseharian kita adalah laku keseharian yang menjauh dari prinsip keberadaban.
Kita memang tak hidup di surga, tak semua manusia bisa menjadi wali dan mencoba suci. Tapi dalam gulita kehidupan macam itu, justru kita diuji dalam persimpangan jalan yang serius: akankan kita kian larut berlumpur culas atau bangkit dengan rasa bangga untuk melawan kelamnya laku keseharian?
Ny Siami memberikan jawaban tegas. Mungkin ia tak berniat menjadi pahlawan, tapi lakunya sudah menyembulkan teladan yang membuat kita trenyuh, berempati, tapi sekaligus murung: sudah sebegitu busukkah kita?
Ny Siami sadar, bukan dengan kebisuan dan pasrah patologi sosial antikejujuran ini bisa disembuhkan. Perempuan itu berteriak, setengah suaranya tertahan mencoba tegar; tapi pasti hatinya menangis. Mungkin ia tak tahu lagi ke mana harus menuangkan gundah hatinya, kecuali hanya membabarkan semuanya secara gamblang.
Tapi, membongkar konspirasi contekan masal di sebuah sekolah berarti membuat berisik dan gaduh kehidupan banyak orang: guru yang dicitrakan baik dan orangtua murid yang tak rela anaknya dituduh membebek hasil kerja keras orang lain.
Sikap jujur yang ditakzimi Ny Siami harus berbuah pahit bagi dirinya sendiri. Sebagian orang bersorak gembira melihat Ny Siami begitu tertekan setelah didemo dan didatangi rumahnya oleh puluhan warga. Tapi sebagian dari kita pasti menangisinya sembari bertanya: kekonyolan macam apa lagi yang sedang terjadi di republik ini?
Di atas segalanya, Ny Siami sedang dan telah memberikan pendidikan akal sehat kepada masyarakat kita yang telanjur teracuni oleh pendidikan akal miring. Di zaman yang makin berat dan sarat sikap keluh ini, Ny Siami menyembulkan harapan dan optimisme. Ia membentangkan selarik imajinasi tentang tentang kelak yang masih bisa lebih baik dari hari ini, tentang kelak yang terpacak kuat di jiwa dan menjadi pandangan yang-sublim: membuang jauh watak korup, menguliti ketidakadilan.
Kata seorang bijak, mustahil bagi sebuah bangsa untuk mengarungi zaman dengan rasa pesimistis. Proses mengarungi zaman adalah perjalanan untuk menapaki jalan yang nyaris gelap di tiap-tiap sikunya. Karena itu kita memerlukan keyakinan dan beribu-ribu lagi Ny Siami, meski sejarah telah banyak memberi fakta tentang betapa banyaknya kekecewaan yang harus diunduh manusia.
Ny Siami adalah tanda gelap di zaman ini. Tapi setidaknya ia juga telah mendonorkan semangat kepada kita untuk berani menyalakan lilin di tengah gulita kehidupan. Sekali pun lilin itu mungkin tak cukup gagah melawan tiupan angin.