Mandangin

SETIAP KALI melintasi laut lepas, yang terpikir oleh saya adalah novel The Old Man and the Sea-nya Ernest Hemingway. Kisah klasik tentang pergulatan hidup seorang nelayan tua yang bertarung melawan ikan marlin gahar itu, bagi saya, tak hanya menyebarkan aroma pertarungan hidup yang pekat; tapi juga kepasrahan pada hidup.

Tiap-tiap kita sadar bahwa hidup kadang harus dijalani dengan dua sikap yang berseberangan secara diametral: ngotot dan pasrah. Kita melawan hidup sekaligus takluk di dalamnya. Pada akhirnya yang melegakan justru bukan cita-cita, tapi sikap syukur menerima kenyataan yang bukan cita-cita.

Sabtu lalu, 16 April 2011, saya singgah di Pulau Mandangin, Madura. Pulau ini terengkuh setelah berlayar dengan kapal tongkang tak cukup besar selama sekira 60 menit dari Dermaga Tanglok di pinggiran Sampang. Dengan luas 1.650 kilometer persegi, jumlah penduduk pulau ini sekitar 18.000 jiwa.

Di pulau ini, hidup terasa begitu simpel. Tawa riang tanpa beban bocah-bocah pantai. Canda akrab penduduk di gardu bambu. Penganan yang dijajakan murah. Motor-motor berseliweran tanpa pelat. ”Yang penting sehat, bisa mencari nafkah walau kecil-kecilan,” ujar Zainal Abidin, salah seorang penduduk.

Di sini kita tak akan menemukan pusat perbelanjaan, jaringan gerai ritel modern, atau bahkan warung internet sekali pun. Pasokan listrik ngos-ngosan. Dalam sehari, listrik hanya hidup selama 12 jam pada pukul 6 malam sampai 6 pagi keesokannya. Lainnya tiada. Bahkan, tak jarang listrik mati seharian.

Nyaris tak ada ambisi di pulau ini. Anak-anak berlarian dengan ingus dan rambut memerah terbakar. Gadis dan pemuda usia belia yang sudah berumah tangga. Makanan penuh zat pewarna yang dijajakan terbuka. Kemiskinan menganga sedemikian rupa.

Di mana pemerintah? Abai, tentu saja. Di mana ekonom? Dalam terik siang itu, bersama seorang nenek penjaja es sirup dengan warna merah dan hijau terang, saya teringat kutipan puisi Sajak Burung-Burung Kondor dari WS Rendra :

Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
dan menjawab dengan mengirim kondom.

Maka, dalam kesimpelan Pulau Mandangin ini, nasib baik mungkin hanya ada dalam dongeng sinetron.

Printed from: http://jelangfajar.com/2011/05/mandangin.html .
© 2012.

18 Comments   »

  • galla says:

    nice ganz!! tapi kalo lagi melaut jangan lupa bawa antimo sama aroma terapi ya =D hehehe

  • Rizal says:

    Kalau pendapat saya, batas di mana disebut sejahtera untuk tiap wilayah itu berbeda. Jika dipaksakan untuk sama, saya rasa kok bakal malah merusak tatanan. Contoh, ketika masyarakat desa mengambil nilai sejahtera itu sama dengan sejahtera yg ada di kota. Yang terjadi adalah penyalinan gaya hidup kota ke dalam desa.

  • admin says:

    Memang benar, Mas Rizal. Dalam soal kultural, beda memang perlu. Namun, dalam konteks kesejahteraan, saya termasuk yang setuju kita mesti punya tolok ukur yang jelas. Miskin itu tidak bisa diteorikan. Ada yang tak bisa makan, itu disebut miskin.

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Reply

  • tapal

    ”Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana...” (Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam)