Agar Matahari Tak Tenggelam di Republik

FOTO BESAR Sri Mulyani Indrawati terpampang besar di atas panggung dengan kutipan kalimat ”Indonesia yang bermutu memerlukan pemerintahan yang jujur dan bersih”. Lagu ”Indonesia Raya” dinyanyikan dengan semangat, meski tak sampai separuh dari jajaran tempat duduk di Rumah Makan Taman Sari Surabaya itu terisi.

Minggu (22/5/2011) pagi, deklarasi Solidaritas Masyarakat Indonesia untuk Keadilan (SMI Keadilan) Jawa Timur digelar. Hadir Sekjen DPN SMI Keadilan Donny Ardyanto dan sejumlah penggagas SMI Keadilan seperti Rocky Gerung, Robertus Robet, Susy Rizky, dan Sony Tan. Namun, Wimar Witoelar yang semula direncanakan datang, batal hadir. Wimar menyampaikan ucapan selamat lewat video.

Saya tahu gerakan ini tak punya gizi kuat karena tak didukung cukong kelas kakap—justru ketika kita hidup dalam budaya politik uang. Saya tahu gerakan ini seperti mimpi di siang bolong, majenun, dan mungkin terasa konyol: menawarkan etika publik di tengah dunia politik yang hanya berisi rangkaian mala.

Tapi di setiap kemustahilan, hidup kerap menghadirkan banyak keajaiban. Gerakan ini direspons banyak orang, meski tak ada yang dijanjikan secara materi. Gerakan ini tumbuh dari kesadaran merawat dan menyelenggaran republik dengan tulus, dan dengan demikian kita paham bahwa Indonesia belum selesai. Kemanusiaan masih bisa diselamatkan: tak selamanya yang culas bisa mendekap tampuk kuasa.

Rocky Gerung, yang saya nantikan pidato politiknya, berbicara dengan semangat sekitar 35 menit. Botol air mineral merek ATM ukuran 500 mililiter, yang dicangkingnya ke podium, tak disentuhnya sama sekali. Pagi itu ia mengenakan kemeja putih polos lengan panjang yang dimasukkan rapi ke celana warna khaki. Sisi kemejanya ditekuk sampai siku.

Sri Mulyani, kata Rocky, pada mulanya adalah figur. Tapi ia kemudian dimaknai sebagai gagasan dan menjelma dalam sebuah gerakan. Gerakan yang berpangkal dari ketidakadilan dan bermuara pada keadilan. ”(Ini adalah) ide keadilan melawan ide akal bulus. Kita melawan politik akal bulus. Setiap ide politik ini kita asuransikan untuk melawan segala rintangan,” kata Rocky.

Rocky tak keliru. Kita kini memang hidup di zaman di mana politik melulu berasosiasi dengan uang, politik yang disesaki para pemburu rente. Dalam taraf yang mengkhawatirkan, kita melihat praktik telanjang persetubuhan pengusaha dan penguasa. Reich menyebutnya sebagai ”super-capitalism”. Maka kita melihat perusahaan raksasa mengemplang pajak dan diabaikan saja oleh negara. Maka kita melihat perusahaan memuncratkan semburan lumpur tapi tak pernah dihukum—dan entah mengapa APBN justru ikut menanggung triliunan rupiah biaya penanganannya.

Saya ingat kata-kata Rocky saat memberi sambutan dalam kuliah umum Kebijakan Publik dan Etika Publik oleh Sri Mulyani 18 Mei setahun silam: ”(Kita) menandingi skandal dua laki-laki. Laki-laki yang satu berbadan besar bernyali kecil. Laki-laki yang lain, berbadan kecil bernyali liar. ”

SMI Keadilan adalah antitesis dari ”skandal dua laki-laki”. Ide yang akan menjadi kesadaran sejati, bukan kesadaran karena lembaran rupiah. ”Kita berangkat dengan ide keadilan untuk melawan politik yang serakah. Sekali ide itu kita selenggarakan dengan hati yang jujur, kita pasti bisa melakukannya.”

Politik, kata Rocky, mesti ditekuni dengan gembira, bukan dengan dikte, nafsu liar, dan belenggu. Dalam kredo ”politik-kegembiraan” itulah, ide bisa lahir, tumbuh, dan terejawantah menjadi gerakan. ”Kita menyelenggarakan politik dengan kegembiraan, di mana kita hidup dari satu ide ke ide yang lain, (dan karena itu) ini bukan gerakan tukar-tambah rekening, tapi tukar-tambah ide. Sebuah ide keadilan yang tidak bisa dibeli dengan uang,” kata dosen Universitas Indonesia tersebut.

Tapi Rocky juga sadar, melawan kekuatan politik akal bulus nyaris seperti tugas yang majenun. Dia tak ingin bunga layu sebelum berkembang. Publik pendamba keadilan ingin ada ”musim semi” untuk simbol etika publik kita, Sri Mulyani Indrawati. ”Bunga bisa layu, tapi bunga yang kita tanam di hati dan kita rawat dengan keseriusan diri, pasti tidak layu. Itulah bunga yang akan kita petik kelak: bunga keadilan,” ujar Rocky.

Maka ide ini mestilah ditindaklanjuti dengan gerakan yang masif dan terstruktur, karena kita tengah melawan politik nafsu liar yang juga masif dan terstruktur. SMI Keadilan sebagai gerakan sosial dan gerakan politik yang mendorongnya harus melakukan apa yang disebut Rocky sebagai ”politik-tatap-muka”. Politik-tatap-muka adalah politik dengan pertukaran ide, bukan pertukaran rupiah. Ia mengandaikan keteguhan pekerja politik untuk berbagi gagasan dengan publik luas guna meraih dukungan untuk mewujudkan Indonesia yang bermutu.

Politik-tatap-muka adalah politik kesadaran, politik emansipasi, bukan politik mobilisasi. Politik-tatap-muka adalah lawan dari politik akal busuk di mana cukong-cukong membeli KTP dan suara warga hanya untuk dukungan dalam pemilu.

”Kita mengampanyekan etika, integritas, dan kesederhanaan; hal-hal yang membuat matahari tidak tenggelam di republik ini,” kata Rocky.

Sri Mulyani, yang akrab disapa Mbak Anik (dengan ”k” karena sedari kecil Sri memang selalu dipanggil Anik), secara raga memang tak berada di tengah-tengah kita. Dia ada nun jauh di sana menunaikan tugas lain setelah disingkirkan dari republik ini oleh ”orang berbadan besar bernyali kecil dan orang berbadan kecil bernyali liar”. Tapi integritasnya kita rasakan sungguh dan meski terpisah secara raga, seperti kata Rocky, ”Ide kita tidak pernah bercerai dengan Sri Mulyani Indrawati.”

Sebuah ide tentang keadilan. Ide tentang Indonesia yang berkebalikan dengan Indonesia hari ini. []

Printed from: http://jelangfajar.com/2011/05/agar-matahari-tak-tenggelam-di-republik.html .
© 2012.

6 Comments   »

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Reply

  • tapal

    ”Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana...” (Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam)