Urip

(maksumpriangga.com)

SESEORANG YANG PERCAYA bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang ”tertua dari seni, termuda dari ilmu pengetahuan”, pastilah ia seorang yang mengimani betapa terbatasnya jangkauan manusia terhadap kehidupan.

Kredo itu, ”tertua dari seni, termuda dari ilmu pengetahuan”, diungkapkan Samuelson di buku Economics, buku yang telah menjadi klasik di kalangan penekun studi ekonomi. Kredo itu dipakai Samuelson untuk menggambarkan betapa perkasanya ilmu ekonomi, sebagai ”ratu ilmu-ilmu sosial”, sebagai ilmu yang berurat-akar di setiap depa kehidupan.

Namun, apakah dengan demikian ilmu ekonomi telah ”selesai” dan mampu membereskan semua persoalan hidup? Nyatanya tidak. Meski semua-mua masalah berkelindan dengan ilmu ekonomi, tak lantas ia menawarkan jalan keluar yang ampuh untuk mengamputasi problem.

”…ilmu ekonomi tak menggaransi orang untuk menjadi jenius,” kata Samuelson.

Maka ”tertua dari seni” ialah kesediaan diri untuk membuka diri bagi semua tamu, bagi segala tafsir; sebagaimana seni kerap mengundang seribu imajinasi yang berbeda satu sama lain. Maka ”termuda dari ilmu pengetahuan” adalah mencipta samudera besar tempat air dari segala penjuru bermuara, penaka ilmu pengetahuan yang menderas saban waktu sepanjang zaman.

Saya teringat Pak Urip Muharso, dosen saya di Fakultas Ekonomi Universitas Jember, pengajar matakuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi. Ia meninggal pekan lalu, kabar yang bagi saya mendadak setelah tiga tahun meninggalkan Jember. Saya ingat ketika harus kelimpungan dicecar olehnya selama lebih dari tiga jam waktu ujian skripsi.

Kami tak kelewat akrab, tapi saya mengingatnya sebagai dosen yang tulus. Pak Urip, sebagaimana namanya, memang selalu hidup. Pikirannya bernas, logikanya tertata. Tak seperti dosen lain, bagi saya, Pak Urip punya perspektif luas. Bacaannya kaya dan berbobot.

Ia seorang yang terpencil dalam pergaulan, tapi terluas dalam pengetahuan. Tak seperti dosen-dosen lain yang banyak tebar pesona dan memainkan intrik politik, Pak Urip lebih memilih untuk menyendiri. Ia tak nafsu pada jabatan-jabatan macam ketua jurusan, pembantu dekan, dekan, atau rektor sekali pun.

Mungkin dalam bakti yang sepi nan tulus itulah pengetahuannya tertempa. Bacaannya menggemuk. Saat dosen-dosen lain memakai materi kuliah yang sama selama bertahun-tahun, Pak Urip banyak menceritakan soal perkembangan ilmu ekonomi kontemporer. Tak heran, ia dengan lancar bicara soal sosiologi ekonomi, disiplin yang pasti asing di mata sebagian dosen di Jember.

Sejauh yang saya pahami, ia seorang moneteris. Bersama para Keynesian, para moneteris adalah penentu tiang pancang dan tinggi bangunan ilmu ekonomi kontemporer. Berkali-kali, dalam setiap perkuliahan dan diskusi, Pak Urip kerap memuji Milton Friedman, ikon utama aliran tersebut.

Sebagai seorang moneteris, ia percaya bahwa jumlah uang yang beredar adalah ihwal yang menentukan segalanya. Seorang moneteris sejati percaya pasar mesti dilindungi dari campur-tangan negara. Dalam kujuran sejarah pemikiran ekonomi, aliran ini memang menjadi salah satu tonggak kuat liberalisme. Dengan metafora yang pas, kaum moneteris mencibir negara dan bank sentral yang kelewat nafsu membikin kebijakan-kebijakan dengan ungkapan ”bersandar pada angin”.

Tapi, Pak Urip bukanlah seorang yang taklid. Ia meyakini betul kredo ilmu ekonomi sebagai ilmu yang ”tertua sebagai seni, termuda sebagai ilmu pengetahuan”. Karena itu ia tetaplah kendi bagi setiap pengembara, perangkat yang membebaskan kita dari rasa haus. Tak jarang ia berdiskusi begitu lepas tanpa sekali pun berpretensi menggurui. Pak Urip membuat dogma jadi tiada.

Pak Urip membabar pemikiran ekonom-ekonom kritis macam Andre Gunder Frank, Paul Baran, atau Paul Sweezy dengan gamblang seolah ia adalah pengikutnya. Ia bicara soal Marxisme dengan semangat terbaru, jauh dari pemaparan dosen-dosen ekonomi di Jember yang memandang Marxisme dari lubang sedotan yang kelewat sempit dan berdebu. Ia menekuni sosiologi ekonomi Thorstein Veblen sama baiknya dengan memahami Joseph Schumpeter.

Saya tak tahu apa pendapatnya soal kapitalisme kontemporer yang baru saja dilimbur bencana paling mengerikan. Tapi pasti ia sadar bahwa krisis justru menjadi tapal batas bagi sebuah harapan: ia menyadari manusia perlu destinasi karena hidup tak selamanya mesti dilalui dengan berlari.

Pak Urip tentu paham bahwa jalan kapitalisme adalah lekuk yang penuh gerowak dan jurang. Tahun 1637 krisis bertajuk ”Tulip Mania” terjadi di Belanda, ”Missisipi Bubble” 1719-1720 di Perancis, ”South Sea’s Fantasy 1720 di Inggris, 1792 di AS, dan terus berulang, seakan déjà vu di banyak tempat: dekade 1820 di Amerika Latin, 1837 di AS, 1840 di Inggris, 1893 di AS, 1907 di AS, 1920 di AS. Belum usai, pada 1929 kita menyaksikan seluruh dunia cemas setelah apa yang disebut sebagai ”the great depression” mengempaskan banyak sektor ekonomi, krisis yang kemudian membuat kita menoleh ke pemikiran Keynes. Lalu, 1986-1990 krisis menghantam Jepang dengan sebutan ”Japan Sinks”, krisis Asia 1997, limbungnya Long-Term Capital Management pada 1998, ”the dot bomb” pada 2000, lalu 2008 yang galau.

Dalam aras inilah, Pak Urip memahami betapa ilmu ekonomi adalah ilmu yang ”tertua dari seni, termuda dari ilmu pengetahuan”. Ia membuka banyak kemungkinan, sembari tetap percaya pada satu jalan monetarisme.
Mungkin karena itulah ia percaya bahwa ilmu ekonomi sedari mula adalah ilmu pengetahuan moral yang membutuhkan pemahaman lintas disiplin. Yang memukau, dalam pergulatan dan keramaian lintas disiplin yang ia tekuni (bandul antara sosiologi dan ekonomi, bandul antara ekonomi dan politik), Pak Urip justru semakin fokus dan detail dalam mendiskusikan sebuah kasus di kelas atau dalam perbincangan informal.

Ia menjadikan ilmu sebagai pintu masuk untuk mendedah satu masalah tertentu, bukan satu disiplin tertentu. Dengan sikap rendah hati inilah, sikap yang mengakui keterbatasan manusia, Pak Urip menjadikan hidup sebagai ladang bakti yang luas-tak terbatas sekaligus ruang yang tak kuasa membekukan waktu. Senja berganti malam, malam bersilih fajar.

Pekan lalu, 11 April, secara nyata ia menghadapi itu: batas kehidupan. Kata seorang teman yang hadir di rumah sakit, ia meninggal tanpa gaduh. Hanya langit mendung yang terlihat gelisah.

Saya tak tahu apa ia meninggal sebagai seorang moneteris, Keynesian, atau post-Keynesian. Itu tak penting, karena kita semua menjadi saksi ia tak hidup dengan kesia-siaan.

Selamat jalan, Pak Urip.

Printed from: http://jelangfajar.com/2011/04/urip.html .
© 2012.

Leave a Reply

  • tapal

    ”Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana...” (Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam)