Kita dan Nurdin Halid

HARI-HARI INI, berbagai ruang di republik ini, dari yang privat sampai yang publik, dijejali berita kisruh rezim Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di bawah kekuasaan Nurdin Halid.

Semua orang tiba-tiba merasa suci, peduli, dan ikut mencaci-maki PSSI. Anggota DPR yang sebelumnya tak pernah terlibat dan tahu-menahu soal sepak bola, tiba-tiba berkomentar bak nabi soal perbaikan sepak bola di koran, televisi, dan radio. Elite-elite partai memanfaatkannya untuk mendulang popularitas dengan tiba-tiba peduli kepada sepak bola. Rakyat bersorak-sorai dalam satu barisan mengamini teriakan para politisi.

Kita memang kelewat gampang lupa. Problem mental dan kebudayaan ini membuat kita hanya ikut arus sana-sini. Mayoritas dari kita hampir-hampir mengamini teriakan orang yang tiba-tiba sok reformis tanpa pernah mengecek bagaimana kiprah orang tersebut sebelumnya. Banyak pahlawan kesiangan yang kerap kita anggap sebagai juru selamat. Ujung-ujungnya, publik yang akhirnya kena tipu.

Kita juga nyaris lupa untuk bertanya: mengapa Nurdin Halid begitu bebal tak mau mundur dari PSSI meski suara miring terus bergemuruh? Atau jangan-jangan kisah Nurdin Halid adalah cerminan keseharian kita?

Praktik ”86”

Republik ini memang terlalu lama silap dan khilaf. Kita permisif saja pada kebobrokan-kebobrokan yang terjadi. Kita praktis menjadi ”Nurdin-Nurdin” lain dalam berbagai aktivitas keseharian.

Para polisi dan pelanggar lalu lintas kerap ”berdamai”, atau dalam istilahnya ”86”. Di kelurahan hingga kecamatan, kita menyelipkan amplop agar semua pengurusan dokumen berjalan ringkas dan kilat.

Korupsi meruyak di sekujur kehidupan kita. Data Indonesia Corruption Watch (ICW) menunjukkan, sepanjang 2004-2010, sebanyak 18 gubernur, 1 wakil gubernur, 17 wali kota, 8 wakil wali kota, 84 bupati, dan 19 wakil bupati terseret kasus korupsi. Dalam rentang 2004-2009, sedikitnya 1.243 anggota DPRD tersandung kasus korupsi.

Hingga pertengahan 2010, tercatat 1.800 kasus korupsi di seluruh Indonesia terkuak. Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) UGM menyebutkan, sedikitnya terdapat 1.891 kasus korupsi di daerah-daerah hasil pemekaran, baik itu di tingkat provinsi maupun kota/kabupaten. Political and Economic Risk Consultancy 2010 juga masih menempatkan Indonesia dalam posisi yang memprihatinkan dalam peringkat negara terkorup.

Kita menyaksikan koruptor, termasuk pelaku suap, masih hidup dalam strata sosial yang tinggi. Makin orang lihai berkorupsi, makin ia diperhitungkan dan bukannya dicampakkan.

Korupsi benar-benar menjadi momok bagi republik ini. Fenomena korupsi tak hanya melukai hati publik, tapi juga memiskinkan bangsa ini. Pada gilirannya kasus korupsi yang seolah tiada henti akan mendonorkan sikap apatis rakyat terhadap keadaan sekelilingnya.

Kita kerap melihat ironi yang menyesakkan di satu sisi sekaligus komikal di sisi lain. ”Ratu Suap” Arthalita Suryani alias Ayin hidup di balik terali besi dengan segala kemewahan: perawatan kecantikan, alat penyejuk ruangan, ruang karaoke, springbed, televisi layar datar, perlengkapan tata suara dan home theatre, kulkas, ponsel pribadi, meja kerja plus perangkatnya, dan ruang nyaman dengan jejeran foto keluarga.

Jaksa yang semestinya ada di barisan terdepan penegakan hukum malah jadi mafia yang menistakan keadilan publik. Polisi dan hakim juga setali tiga uang. Ada pejabat yang terbukti korup, begitu keluar dari penjara, disambut dengan perayaan mewah dan masih berani tersenyum ceria sambil melambaikan tangan di depan wartawan, fotografer, dan kamerawan.

Kita yang sering mengklaim diri sebagai kaum agamis malah sibuk saling serang. Kerap kali bahkan dengan pedang, tombak, hingga senapan yang memakan banyak korban.

Lalu, apa bedanya mayoritas kita dengan Nurdin Halid, orang yang kita hina-dina itu? Kita rajin berkolusi sebagaimana Nurdin dituding korupsi. Kita sering tak mau tahu urusan orang lain seperti Nurdin yang juga keras kepala. Kita giat mencerca pendirian orang lain layaknya Nurdin yang juga mau menang sendiri. Kita kerap tak tahu malu seperti Nurdin yang juga tak pernah tahu malu.

Lantas, apa yang hendak kita simpulkan dari centang-perenang keadaan macam ini?

Fakta brutal ini menyembulkan kisah sedih tentang robohnya moralitas publik. Moralitas publik hanya bergaung di seminar, tapi tak jadi praktik yang menyehari.

Kita patut sedih karena kini hidup berdampingan dalam masyarakat yang korup, bebal, dan menjauh dari sigap. Suap-menyuap jadi legal, keganjilan jadi keseharian. Ini sinyal terang tentang bayangan suram Indonesia kelak: sebuah negeri di mana ketidakjujuran menghampar di setiap sudutnya.

Kita semua kaget, masygul, dan geram melihat banyak keganjilan, meski nyaris tiap hari kita juga melakukan keganjilan-keganjilan itu.

Ada sebuah drama lima babak tentang kemunafikan berumbul Tartuffe yang sangat menarik dijadikan cerminan. Drama karya dramawan Perancis Moliere ini kali pertama dipentaskan di Perancis pada 1664 dan 305 tahun kemudian dimainkan Teater Populer arahan Teguh Karya di Indonesia. Di Perancis, drama ini dilarang karena dianggap menghina kaum agamawan.

Tartuffe adalah drama legendaries ihwal kemunafikan. Tartuffe mengisahkan kiprah Tartuffe, sosok sok suci dan agamis yang sebetulnya penipu ulung. Dia membungkus aksi tipunya dengan sok mengatasnamakan Tuhan. Salah seorang korbannya adalah bangsawan bernama Orgon, yang rela mengorbankan keluarga dan hartanya karena tertipu aksi Tartuffe.

Kisah kemunafikan ini sejatinya adalah cermin keseharian kita. Kisah ini menyodorkan cermin besar tentang buruk rupanya kehidupan kita: agamawan yang tak agamis, penegak hukum yang korup, dosen yang cuma kejar proyek, pedagang yang memanipulasi timbangan, dan Nurdin Halid yang sok jadi pembina sepak bola tapi sesungguhnya melukai sepak bola.

Ya, ini fakta pahit tapi harus ditelan: ternyata Nurdin Halid hampir-hampir jadi cermin keseharian kita. Semestinya kita intropeksi bersama karena wajah kemanusiaan kita hari ini kian bopeng.

Karena itu, dari Nurdin Halid hendaknya kita tak hanya belajar mencaci-maki dan berdemonstrasi. Semestinya kita juga belajar untuk menjadi manusia baru, manusia yang lebih peka, rendah hati, teguh, dan tak mau mengambil jalan pintas untuk sebuah tujuan.

Printed from: http://jelangfajar.com/2011/02/219.html .
© 2012.

45 Comments   »

Trackbacks/Pingbacks

  1. Another Title

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Reply

  • tapal

    ”Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana...” (Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam)