JOSEF, NAMANYA. Dari Flores, pria paro baya ini berjalan ke dermaga. Dengan kapal roro, ia menuju ke Surabaya. Dua hari dua malam ia berlayar.
Dari Surabaya, ibukota Jawa Timur yang kian banyak dijejali mal itu, ia menginap semalam di rumah seorang kawan. Pagi buta di Sabtu menjelang Ramadan itu, dengan bus ia menuju ke Malang, lalu ke Tumpang, lalu ke Ranu Pani dengan jalanan yang dipenuhi kerowak menantang.
Ini bukan perjalanan bisnis, tentu saja. Dari Ranu Pani, pos pemberangkatan pendakian Gunung Semeru, setapak demi setapak ia naik. Tak ada pakaian dan peralatan sangar ala pendaki. Kaus berkerah sederhana warna merah tua. Celana pendek warna khaki dan sendal cokelat muda.
Bukan tas penuh beban yang dibawanya. Hanya ransel mungil berisi sedikit makanan dan pakaian ganti. Juga kantung-kantung besar. ”Baru pertama kali ini saya ke Semeru,” ujarnya.
Saya bertemu Pak Josef jelang Ramadan lalu saat bermain ke Gunung Semeru. Saya bermalam di Ranu Kumbolo dan bangun pagi dengan badan yang masih terus menggigil. Udara luar biasa dingin. Saya menyeduh kopi susu dan menuju ke pinggir ranu biar tubuh ini bisa disirami matahari dan jadi lebih hangat. Di sanalah saya bertemu Pak Josef.
Di Ranu Kumbolo, di ketinggian sekira 2.400 meter di atas permukaan laut, dengan udara yang mencerucuk tulang, Pak Josef menghentikan perjalanan, lalu menyisir setiap sudut dan memunguti sampah-sampah plastik. Bungkus mi instan, kaleng sarden, tas plastik, hingga bekas sabun cuci muka. Kadang ia dengan mudah memungut dan melemparnya ke kantung. Tapi tak jarang ia harus mengorek tanah, mencukil bungkus yang sedikit tertimbun di dalamnya. Dalam sehari itu, ia sudah mengumpulkan tiga kantung besar sampah.
Saya tertegun, malu dan tak tahu harus berbuat atau bicara apa. Hati ini mendadak rombeng. Pak Josef berangkat bukan untuk kepentingan uang, tidak untuk kepentingan diri sendiri. ”Saya perlu uang,” kata dia, ”tapi tak lantas saya harus terus mencarinya.” Alkitab menyebut harta dengan istilah ”Mamon”, sesuatu yang dianggap tak selalu baik dan cenderung melungkrahkan nurani manusia. Ada satu metafora hebat untuk itu: ”Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk dalam Kerajaan Surga” (Mat. 19:24).
Di zaman ketika akuntansi jadi mantra utama, bagi saya, bertemu dengan Pak Josef seperti bertemu dengan filsafat. Sebuah jeda. Tapi jeda yang panjang. Sebuah koma yang tak hendak buru-buru melanjutkan kalimat. Semacam ketukan dalam diam.
Pak Josef berlaku bukan untuk dirinya sendiri, nyaris absurd, untuk sesuatu yang entah, yang hasilnya tentu tak ia tuai sendiri. Pak Josef sedang melawan zaman, titimangsa yang menjadikan perhitungan ekonomi sebagai lambaran utama. Pak Josef bertindak nonproduktif justru di era ketika semua gerak mesti ditakar dalam ukuran-ukuran produtivitas yang rigid.
Menganggit kesadaran untuk melawan akuntansi sebagai dasar kehidupan kita hari ini adalah ikhtiar yang kelewat mustahil. Ibarat menyusun ilalang untuk membangun gedung-gedung megah. Tapi, dalam kemustahilan itu, kita kemudian tahu, Pak Josef menyadarkan kita bahwa selalu ada yang masih konsisten merawat kebajikan di tengah rimbun penyelewengan.
Ia memunguti sampah untuk siapa saja, seorang yang mungkin tak pernah ia kenal, untuk rumput dan ilalang, juga pohon-pohon besar penyeimbang kehidupan.
Sore harinya, saya membantunya menyeduh kopi. Ia hendak turun sore itu juga. Hari sudah hampir gelap. ”Mainlah ke Flores. Ada banyak tempat indah di sana,” kata dia, lalu pamit pergi. Pak Josef (terbekatilah ia sesuai namanya: Tuhan akan selalu memperkaya hatinya) berjalan dengan tegap, meski tampak kakinya seperti terseret. Mungkin ia kelelahan.
Pak Josef tahu, tapi saya tidak: hidup bukan hanya urusan untuk bekerja, menulis puisi, melengkapi laporan keuangan, memacu penjualan roti, menambang batubara, menyetujui aplikasi kredit, atau membikin program komputer. Tapi hidup juga perlu banyak hal yang tak masuk kalkulasi produktivitas. Dan untuk hal-hal nonproduktif itu, kita tak perlu berada di pentas.
Laku nonproduktif bapak ini memberi kita sebuah cermin besar: hidup sebenarnya bukan urusan berani berbuat bijak di depan kamera dan panggung gemerlap, tapi urusan untuk berani bijak dalam kesendirian. Tanpa ekspose, tanpa kamera.
Saya menatap ranu dalam diam. Di tangan ada buku Tartuffe, sebuah drama lima babak tentang kemunafikan karya Moliere. Drama ini pertama kali dipentaskan di Perancis pada 1664 dan 305 tahun kemudian dimainkan oleh Teater Populer arahan Teguh Karya di Indonesia.
”Dan kesombongan, Tuan, tidak terlalu cocok dengan kesalehan,” kata Dorine, sang pembantu di drama itu, kepada majikannya, Orgon.
Banyak orang terlampau sering berbuat bijak hanya saat tampil di atas pentas.

Dalem banget...
*merenung*
ri... aku jadi mikir, jangan2 justru yang seperti ini yang sebetulnya masuk kategori 'produktif' yang sebenar- benarnya, sebab manfaatnya akan dirasakan oleh banyak orang dan dalam jangka waktu panjang?
d.~
Betul, Mba' Dee. Kalau kacamatanya seperti itu memang Pak Josef melakukan tindakan produktif. Tapi di hidup kita hari ini, di mana paradigma akuntansi adalah lambaran utamanya, tentu Pak Josef melakukan tindakan2 nonproduktif.
waw...speechless...thanks for sharing pak...