Kita dan Moralitas Ekonomi

HARI-HARI ini kita hidup di zaman yang menuntut kita untuk terus berlari dan meringkas langkah. Dunia menjadi mesin-hasrat yang tak pernah lepas dari dahaga dan kita hampir tak berdaya untuk menginterupsi pasar.

Kehidupan berekonomi jadi kian mencekik. Langkah panjang menggapai kemakmuran diringkas dengan segala cara. Orang ramai-ramai menipu, membajak, dan menyuap. Perusahaan-perusahaan memanipulasi laporan keuangan dan mengemplang pajak. Sebagian yang lainnya berkolusi dengan rezim dan partai politik. Korporasi-korporasi raksasa membabat jutaan ribu hektare hutan dan meninggalkan kerowak yang menganga setelah sumber tambang dikuras habis. Kita menyaksikan praktik culas itu dengan telanjang dan terus terang.

Enron, perusahaan raksasa dengan lini bisnis beragam, menyentak kita dengan laporan keuangan palsu yang membuatnya seolah untung jutaan dolar AS. Kita terkejut saat pemilik wajah tua nan teduh itu, Bernard Madoff, ternyata penipu ulang yang menilap harta investor hingga USD 50 miliar. Banyak orang frustrasi karenanya. Miliuner Jerman Adolf Merckle dan investor Perancis Thierry Magon de la Villehuchet, misalnya, memilih untuk mengakhiri hidupnya daripada menghadapi pelik krisis yang menguras harta mereka.

Skandal Madoff menarik ingatan kita pada Charles Ponzi. Ponzi adalah peletak dasar teori penipuan piramida yang akhirnya ditiru banyak pihak untuk menggarong duit investor. Skema Ponzi, yang terkenal di dekade 1920, membabar kebohongan: investor mendapat imbal hasil (yield) investasinya dari duit investor baru. Imbal hasil bagi investor A diperoleh dari duit investor B, begitu seterusnya.

Berangsur tapi pasti, orang ramai mulai menihilkan kepentingan bersama. Di tengah ratap duka investor seantero jagat, toh eksekutif di perusahaan finansial tetap bisa jenak dalam kemewahan. Goldman Sachs, lembaga yang dituding sebagai salah satu biang kerok krisis 2008 dan mendapat bailout dari negara, seolah tak punya rasa sesal dengan melimpahkan bonus hingga USD 6,5 miliar untuk para eksekutifnya. Sepanjang 2008, para eksekutif di perusahaan-perusahaan finansial AS menggamit bonus hingga USD 18,4 miliar.

Ada perusahaan yang karena kesalahannya membikin semburan lumpur dan menyengsarakan jutaan warga, tapi dengan seenaknya enggan mengakui kesalahan. Dan entah mengapa APBN justru ikut menanggung triliunan rupiah biaya penanganannya.

Mesin-mesin berputar, serentak dan menghentak. Para produsen hanya berpikir tentang bagaimana memacu penjualan produknya tanpa peduli pada kualitas barang dan limbah yang mencemari sungai, tanah, serta udara kita.

Yang kita capai tahun ini harus tumbuh berlipat pada tahun depan. Peduli setan dengan orang lain. Karena itu kita dan pabrik kendaraan tetap saja menambah jumlah motor dan mobil kendati macet kian memuakkan. Laporan keuangan jadi juara dibanding tingkat polusi udara.

Diakui atau tidak, kehidupan berekonomi kita kini bermuara pada ketamakan yang liar (unbridled greed). Kita berwalang hati pada semua ihwal: portofolio saham yang terjun bebas, investasi yang tandas, dan peluang bisnis yang terlepas.

Namun, betapa pun jahatnya, perilaku kapitalistik macam itu toh tetap kita imani dalam kehidupan berekonomi kita hari ini. Seperti nasib buruk yang tak bisa ditampik.

Lalu, relevankah hari ini membincangkan moralitas ekonomi, etika bisnis, ethical auditing? Moralitas ekonomi terasa begitu penting hari ini tapi sekaligus terasa tak relevan karena akuntansi sudah jadi mantra utama dan kita mengimani fetisisme itu. Tapi mengapa tidak?

Setidaknya kita berikhtiar mendirikan pertahanan di jiwa di mana tak selamanya yang-ekonomis memegang tampuk kuasa. Adam Smith, bapak kapitalisme yang kerap disalahpahami itu, percaya, hidup tak hanya memberi ruang bagi kita untuk egois, tapi juga untuk menanamkan rasa peduli kepada orang lain—di Theory of Moral Sentiments, Smith menyebutnya sebagai simpati.

Bahwa bisnis adalah ikhtiar untuk mengeruk laba memang benar adanya. Tapi ia tak harus dilakukan dengan mengorbankan kepentingan orang lain. Di sinilah relevansi Smith: ia menarik batas definisi antara kepentingan diri dan egoisme dalam dunia ekonomi.

Kepentingan diri (self-interest) berseberangan secara diametral dengan egoisme (selfishness). Kepentingan diri menuntun setiap pribadi untuk melakukan kegiatan ekonomi yang dibabar dalam dua aspek: memberi untung bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Pedagang menjual cokelat hangat di sebuah kafe agar ia mendapat uang. Sepasang kekasih membelinya sebagai pelengkap kebersamaan. Timbal-balik yang menguntungkan. Filsafat-ekonomi Smith percaya bahwa kepentingan diri melulu selaras dengan kepentingan orang lain. ”Give me that which I want, and you shall have this which you want,” tulis Smith di karyanya yang lain, The Wealth of Nations.

Smith sesungguhnya meletakkan dasar-dasar tentang bagaimana berekonomi dengan apik. Smith tak jadi naif dengan berbusa-busa bicara moralitas ekonomi dan kebaikan manusia. Ia mendudukkan ekonomi di tempat yang tepat: semuanya melulu berurusan dengan kepentingan diri. Untuk semua itu, yang dibutuhkan bukan sikap malaikat, melainkan sikap yang wajar. Kita hanya perlu berbisnis dengan wajar, dan otomatis itu akan membawa kemaslahatan.

”Bukan dari kebaikan hati pembuat bir atau penjaja roti kita mendapatkan hidangan makan malam, melainkan dari prioritas mereka untuk memperhatikan kepentingan diri mereka sendiri,” kata Smith.

Tepat di situlah sebenarnya mekanisme pasar harus dimaknai: kepentingan diri yang membangun kepentingan bersama. Kerja ini berjalan natural, otomatis, tanpa negara yang rewel. Smith menyebutnya ”dituntun tangan-tak-terlihat”.

Pedagang cokelat hangat tentu tak pernah berfikir soal kepentingan bersama. Yang ia pikirkan hanya kepentingan dirinya. Tapi tanpa ia sadari ia telah memberi ruang bagi kepentingan bersama: sepasang kekasih yang kian mesra, pekerja kantor yang kembali bugar setelah menyesapnya, dan petani kakao yang mereguk pundi laba.

Pasar bergerak otomatis dan di sini kita tak perlu naif bicara moralitas. ”Pasar yang sempurna tak membutuhkan moralitas,” kata David Gauthier. Kini yang kita butuh pasar yang sempurna itu: negara yang tak cerewet, pebisnis yang tak banyak minta insentif, dan dunia usaha yang mendamba kompetisi sehat di segala lini. Tidak kurang, tidak lebih.

Printed from: http://jelangfajar.com/2010/11/kitadanmoralitasekonomi.html .
© 2012.

26 Comments   »

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Reply

  • tapal

    ”Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana...” (Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam)