Tentang Masa Depan yang Sepenuhnya Gelap

Sepenuhnya manusia selalu singgah di jalan berkabut dan tak selamanya terang dalam hidup.

Setiap kelahiran adalah harapan. Tentang tangis seorang bocah dan senyum lega ibu dan ayah. Namun setelah itu temaram: masa depan tetap menjadi janji dan tak ada yang tahu apakah itu bisa ditepati.

Setiap babak adalah asa. Tentang peluit yang dibunyikan wasit dan semangat menggebu para atlit. Tapi sesudah itu gamang: hasil pertandingan tetaplah misteri yang dibekam, kecuali ia lunglai di meja para pejudi.

Setiap Lebaran adalah sukacita. Tentang terompet yang ditiup dan bianglala kembang api yang meletup. Namun selanjutnya tetaplah tanya: apa yang terjadi lusa dan esok sepenuhnya enigma dan kerap bikin cemas.

Dengan itulah barangkali masa depan tetap menjadi gunjingan yang menggelegak di sekujur perkembangan agama dan filsafat, meski kerap tampil klise dan membosankan. Masa depan, tahun depan, esok, lusa, menjadi kolase yang tak henti ditatah, lengkap dengan gigantisme dan kenaifannya.

Masa depan mengandaikan sikap pasrah, ketika batas benar-benar dipancangkan. Waktu dan ruang di masa depan ibarat hutan yang rimbun lebat. Sepenuhnya manusia selalu singgah di jalan berkabut dan tak selamanya terang dalam hidup. Masa depan sepenuhnya tanya. Dari tahun ke tahun, dari hari ke hari, detik ke detik, kita akan selalu dibekap batas itu. Kita tak tahu apa-apa. Tak akan pernah tahu apa-apa.

Tahun-tahun ini kita hidup di zaman yang berlari. Dunia menjadi basilika tempat yang efisien dan yang efektif menjadi raja. Tak ada suaka bagi manusia-manusia yang lambat. Produktivitas jadi mantra yang dirapal tiada jeda.

Ratusan orang berjalan cepat di pusat-pusat bisnis seolah mereka sedang dikejar setan yang menakutkan. Tak ada saling sapa, tentu saja—anonimitas dalam pengertian Harvey Cox. Satu dan lain saling menegasikan: pagar perumahan yang menjulang tinggi, resor-resor mewah nan bergengsi, pembangunan kota mandiri, nomor telepon yang dibatasi—yang dalam kata-kata Harvey Cox disebut sebagai ”berguna dalam rangka mempertahankan kepentingan pribadi yang penting bagi kehidupan sang manusia”.

Teks datang silih berganti dan sepenuhnya kilat. Kita tiba-tiba saja begitu perhatian pada wajah merah merona Luna Maya. Kita tiba-tiba saja sok jago membela Bibit dan Chandra. Kita tiba-tiba menjadi analis hukum dan perbankan. Tapi, lekas pula kita lupa pada teks-teks sebelumnya: tentang Munir yang mati diracun, tentang Khoiyaroh yang mati diguyur kuah bakso saat diobrak Satpol PP, tentang Wiji Thukul dan gema sajak-sajaknya, tentang rindu-rindu yang tak menemukan jawaban.

Semuanya datang silih-berganti, membingungkan, dan kerap defisit kedalaman. Krisis eksistensial manusia kini hadir dalam simptom yang jelas dan nyata: refleksi yang tersuruk dan bisnis yang mengangkasa. Dunia menjadi basilika yang bengis dan sinis.

Teks-teks bergerak cepat dan anonim. Parameternya rigid dan kuantitatif, nyaris akuntansi. Sekali kita bergerak lambat, saat itu pula kita akan ditinggal gerbong yang laju. Dunia serupa conveyor yang sesak dengan janji dan masa depan. Kemajuan adalah iman manusia kini. Modernisme menang, kapitalisme tak lagi punya lawan.

Progress, yang menjadi mantra modernisme, kini justru memapah manusia menuju gerbang kekosongan, keterasingan, bahkan dengan dirinya sendiri. Kita tak berdaya menginterupsi pasar. Tak sanggup memberi arti pada hal sepele yang lama terabaikan. Kita abai pada kolam lele di pinggir balai desa, pada pensil yang lama tak diraut, pada cangkir besi yang lama tak diisi kopi.

Kita menemukan waktu-senggang sebagai rupa dari kemalasan, dan karena itu harus ditinggalkan. Sebab tak ada jeda kini, semuanya harus cepat bergerak demi mantra modernisme ihwal efisiensi dan produktivitas. Padahal, justru di waktu-senggang itulah—saya memakai pemikiran Josef Pieper—yang manusiawi hadir dan tak bisa kita tampik. Di waktu-senggang itulah yang-sublim kembali digeledah dan ditemukan di tengah pikuk dunia--barangkali sebagai bekal kerja agar ia tetap dilambari fungsi sosial.

Terasa aneh, barangkali. Pribadi akhirnya terseret pula sebagai mesin-hasrat, bawahan dari dunia-luar yang sepenuhnya pasar. Pada titik inilah, ketika yang-eksterior begitu perkasa mengangkangi yang-interior, manusia terengah-engah menemukan jeda dan waktu-senggang. Di altar gereja, di pokok-pokok masjid, atau di sunyi sebuah pura: nyaris semuanya menjadi iklan. Di sepanjang jalan, pada sepatu yang menipis, pada lekukan peta: semua-muanya juga nyaris iklan.

Tapi, hidup toh harus tetap diberangkatkan, lengkap dengan asa dan gulana. Esok, lusa, tahun depan, dan harapan yang gemilang: ketika bekerja dan produktivitas tak lagi menjadi doa yang menyehari, ketika yang-sublim kerap kita gumuli, teko dan panci yang gilang kembali, dan rindu yang beroleh ketetapan hati.

Namun, sekali lagi, enigma menjadi imperium yang tak akan mampu dipecahkan manusia: gigir kecemasan, tahun yang menggelisahkan, lusa yang memacu eskalasi kegetaran dan nafas panjang di persimpangan jalan.

Saya tak tahu apakah saya masih harus mengutip Chairil Anwar: ...ada yang tetap tidak terucapkan, sebelum pada akhirnya kita menyerah.

Dunia memang serupa anak kecil yang dirubung janji, yang tentu saja tak selamanya terpenuhi.

Printed from: http://jelangfajar.com/2010/09/masa-depan-yang-gelap.html .
© 2012.

873 Comments   »

Trackbacks/Pingbacks

  1. Matilde
  2. Vehmer

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Reply

  • tapal

    ”Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana...” (Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam)