Wiji Thukul

Hari ini semestinya ia berulang tahun yang keempat puluh tujuh. Tapi ia tak muncul dan barangkali tak akan pernah muncul.

Hari ini semestinya ia berulang tahun yang keempat puluh tujuh. Tapi tak ada dan tak akan pernah ada acara tiup lilin. Tak ada dan tak mungkin ada kartu ucapan.

Perjumpaan dan perpisahan itu sudah lama sekali. Ia bertemu terakhir kali dengan istri dan anaknya hampir 13 tahun silam, di ujung Desember 1997 yang penuh haru. Di suatu sudut Yogyakarta, sebelum sang istri kembali ke Solo, pertemuan tanpa kebak kata itu berlangsung. Mungkin ia gentar, mungkin sang istri tak rela, tapi kemuliaan selalu hadir pada orang yang tepat.

Gerimis menderas tengah malam ini
Dingin dari telapak kaki hingga ke sendi-sendi
Dalam sunyi hati menggigit lagi
Ingat
Saat pergi
Cuma pelukan
Dan pipi kiri kananmu
Kucium
Tak sempat mencium anak-anak
Khawatir
Membangunkan tidurnya (terlalu nyenyak)
Bertanya apa mereka saat terjaga
Aku tak ada (seminggu sesudah itu
Sebulan sesudah itu
Dan ternyata lebih panjang dari yang kalian
harapkan!)
Dada mengepal perasaan
Waktu itu
Cuma berbisik beberapa patah kata
Di depan pintu
Kau lepas aku
Meski matamu tak terima
Karena waktu sempit
Aku harus gesit
Genap ½ tahun aku pergi
Aku masih bisa merasakan
Bergegasnya pukulan jantung
Dan langkahku
Karena penguasa fasis
Yang gelap mata
Aku pasti pulang
Mungkin tengah malam dini
Mungkin subuh hari
Pasti
Dan mungkin
Tapi jangan
Kau tunggu
Aku pasti pulang dan pasti pergi lagi
Karena hak
Telah dikoyak-koyak
Tidak di kampus
Tidak di pabrik
Tidak di pengadilan
Bahkan rumah pun
Mereka masuki
Muka kita sudah diinjak!
Kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
Dan aku jarang pulang
Katakan
Ayahmu tak ingin jadi pahlawan
Tapi dipaksa menjadi penjahat
Oleh penguasa
Yang sewenang-wenang
Kalau mereka bertanya
"Apa yang dicari?"
jawab dan katakana
dia pergi untuk merampok haknya
yang dirampas dan dicuri

[Catatan, Wiji Thukul]

Ini bukan perpisahan yang romantis, tentu saja. Ini bukan Buah Delima-nya Yasunari Kawabata. Ini bukan kisah Damarwulan dan Anjasmara.

Ia, Wiji Thukul, dihilangkan penguasa seperti ditelan bulat-bulat oleh bumi. Tak berjejak, tak bersisa. Beberapa kawannya yang dulu segaris kini berada di panggung gemerlap penuh sorot kamera. Ada yang jadi anggota DPR, pemikir, dan sebagian malah teramat dekat pada kekuasaan.

Tapi ia memang lain. Bagi Thukul, hidup memang bukan urusan untuk berani tampil bijak di depan sorot kamera, tapi urusan untuk berani berbuat bijak dalam kesendirian. Maka, dalam kehidupannya yang papa, ia justru tampil begitu kaya. Ia abdikan setiap hela nafas dan depa langkah, pemikiran, dan sajak-sajaknya kepada mereka yang telah dirampok haknya. Dalam kesendirian, dengan hanya segelintir kawan dan keluarga yang tabah, ia jalani ikhtiar itu dengan tekad yang membatu. Hidup Thukul bukan saga tentang penulis bohemian yang manja dan cengeng.

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

[Peringatan, Wiji Thukul]

Berkali-kali Thukul ditangkap dan dibawa ke markas tentara. Berkali-kali dalam aksi-aksi perlawanan ia dipopor senjata. Ia tersuruk, jatuh, mengendap-endap, tapi ia bingkas bangkit dan kembali melawan.

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan 
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!

[Sajak Suara, Wiji Thukul]

Di mana-mana, rezim memang melulu takut pada ketidakstabilan. Tata yang seolah tenang, hidup yang seakan tertib, tapi justru di situlah kebusukan bakal jadi kronis. Di Pantai Gading, Cheikh Kone lintang-pukang menghindari kejaran rezim. Suatu hari di bulan Oktober 2000, seusai negerinya menghelat pemilihan presiden, Kone menulis artikel pedas tentang manipulasi rezim.

Ia dikejar, lalu kabur menyeberang ke Ghana pada 20 Oktober 2000. Ia lantas menuju Togo, menyelinap di kontainer kapal lalu terdampar di Afrika Selatan. Enam pekan di negeri itu, Kone memutuskan mengendap-endap ke sebuah kapal barang tanpa tahu ke mana kapal itu akan berlayar.

Setelah terombang-ambing di laut, di ruang mesin yang pengap, dalam delapan hari dan sembilan malam tanpa makan dan minum, seorang awak kapal asal Italia menemukannya.

Untung hidup begitu memihak Kone. Singkat cerita, ia sampai di Australia. Di negeri yang katanya pelindung hak asasi manusia itu, Kone justru dikerangkeng. Dalam The Long Road yang ditulisnya pada 2005, Kone berkisah, ia harus menunggu berjam-jam hanya untuk menggunakan toilet. Tak ada telepon, tak ada televisi, tak ada bolpoin. Saban hari, ia hanya diperbolehkan menghirup udara segar selama sejam.

Tapi ia tak gentar. Dikekang sedemikian rupa, toh bagi Kone: the walls of my room, its doors were enough inspiration for me to write, write and never stop writing. Orang macam Kone ada di mana-mana, dan orang-orang macam itu selalu menjadi, seperti kata Kardinal Nguyen Van Thuan, ”garam pada hidup yang tanpa rasa”. Aktivitas politik, terutama dalam menyuarakan HAM, mengantarkan Kardinal Nguyen, mantan uskup Saigon, ke kotak penjara yang rudin

Thukul adalah bunga, tapi bunga ”yang tak dikehendaki tumbuh” karena rezim ”lebih suka membangun rumah dan merampas tanah”.

Karena tak dikehendaki tumbuh, bunga itu dibabat dan dikepras penguasa dengan mata dan batin yang buta. Tapi ia benar-benar imun dari rasa takut. Berkali-kali digodam gada penguasa Thukul toh tetap Thukul yang tak pernah sehasta pun menyurutkan langkah. Semakin ia dilimbur teror, semakin tebal keyakinannya untuk melawan pemegang tampuk kuasa.

Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun tirani harus tumbang!

[Bunga dan Tembok, Wiji Thukul]

Thukul memberi kita cermin besar tentang arti ketulusan dan keberanian. Ia lekat dengan tindakan-tindakan yang bersuara lantang terhadap penindasan. Persinggungannya dengan realitas, membuat tabiat literernya terbentuk menjadi sangat dekat dengan suara-suara penderitaan. Penindasan rezim membuat tabiat Thukul kian terasah untuk selalu kebal rintangan dan gigih dalam memperjuangkan sebuhul cita-cita yang telah membakar jiwanya.

Pemihakan dan pembelaannya tertuang sangat jelas. Bagi Thukul, hidup dan kehidupan memang bukan perjalanan yang kosong dan bebas dari intervensi ideologi.

Kita melihat nuansa perlawanan tak pernah luput sekali pun dari laku dan pikirnya sehari-hari. Thukul seolah dimunculkan oleh semangat zaman dari ruang khusus yang gelap-gulit untuk memijari kehidupan.

sudah dengar cerita mursilah?
edan!
dia dituduh maling
karena mengumpulkan serpihan kain
dia sambung-sambung jadi mukena
untuk sembahyang
padahal mukena tak dibawa pulang
padahal mukena dia taroh
di tempat kerja
edan!
sudah diperas
dituduh maling pula

[Edan, Wiji Thukul]

Thukul bergerilya. Di tahun-tahun yang panas sebelum Soeharto runtuh, Thukul menghindar dari kejaran rezim ke Kalimantan. Dalam hidup yang ala kadarnya, perlawanan ia jalankan dengan cara klandestin, merayap, dan membangun kontak rahasia.

Dari satu kota ke kota lain, dari Jakarta, Tangerang, Solo, Surabaya, hingga Ngawi, Thukul hadir dan terlibat. Dalam ziarah itu, ia bertemu banyak buruh, petani, kaum miskin kota, dan kaum gembel lainnya. Segendang mereka menuntut hak-hak yang telah dirampas. Sepenarian mereka melawan rezim yang menihilkan kemanusiaan.

di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan

di ciroyom ada kawan sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes

juga ada neni
kawan bariah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang

di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak

di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam

di mana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung - solo - jakarta - tangerang

[Satu Mimpi Satu Barisan, Wiji Thukul]

Tapi, kini suara-suara menuntut pengungkapan kasus penghilangan paksa terhadap Thukul kian yatim, parau, dan redup. Kemiskinan tak lagi digegap-gempitakan, meski kita tahu hampir saban hari gelandangan diorak, PKL dan rumah-rumah kardus digusur, petani-petani jadi busung, dan anak-anak buruh kesulitan bersekolah. Tak ada lagi narasi besar tentang ikhtiar menggamit kesejahteraan. Kemiskinan bersilih rupa jadi ihwal teknis semata. Perubahan tak pernah tuntas dan mendadak rombeng.

Kita memang terlampau mudah untuk jadi manusia pelupa.

Printed from: http://jelangfajar.com/2010/08/wiji-thukul.html .
© 2012.

36 Comments   »

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Reply

  • tapal

    ”Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana...” (Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam)