Yang Terlewat dari Notre Dame Cathedral

Foto oleh Lila Larasati Utami

--- tentu saja cinta bukan sebentang garis lurus di peta.

Notre Dame Cathedral, Saigon. Di pagi yang gerah itu, pertengahan Mei lalu, sepasang kekasih mengambil foto pranikah di sisi luar katedral berlatar dinding tua kecoklatan. James Bourard merancang bangunan ini 1870 silam. Di seberang jalan, poster besar Ho Chi Minh berdiri kokoh dengan kalimat pembuncah semangat: 35 tahun kemenangan dalam genggaman. Vietnam memang sedang turah propaganda menyambut 30 April yang bersejarah setelah 35 warsa silam Vietnam selatan yang boneka Amerika Serikat dibikin limbung oleh Vietnam utara yang berhaluan kiri.

Saya berjalan pelan memasuki katedral dengan panjang 133 meter, lebar 21 meter, dan tinggi 55 meter ini. Di sisi kanan, dua fresko, entah karya siapa, tampak anggun sekaligus garang mengisahkan Sang Bunda. Di luar, patung Bunda Maria berdiri kokoh setinggi 10 meter.

”Jika Tuhan dan Bunda merestui,” demikian selarik kalimat di atas kertas di pojok kanan katedral. Diletakkan begitu saja di tepi tembok, entah oleh siapa. Saya memungutnya dan teringat ini nubuat klasik gereja untuk menggambarkan peran Maria sebagai mediator. Dios quiere y La Virgen permite.

Notre Dame Cathedral, Saigon, memang megah; sama seperti tempat ibadah macam masjid yang ingin mendekap langit. Hanya lima hari pascadatang dari perjalanan ke Vietnam, Kamboja, dan Thailand; saya memutuskan untuk melakukan perjalanan dinihari ke Bangkalan, Madura. Saya menuju warung kopi lesehan yang tepat menatap masjid agung Bangkalan yang supermegah. Ada ganjil yang meruap: beginikah Tuhan harus didekap?

Apa sebenarnya yang dicari manusia? Di Depok, kita melihat masjid berkubah emas yang tinggi. Di Bangkok, ada patung Buddha yang disepuh emas. Di Manado, monumen Yesus Memberkati yang tertinggi kedua di dunia dipancangkan: setinggi 50 meter di landasan seluas 20 meter, dengan badan patung setinggi 30 meter—monumen ini cuma kalah dari patung Christ The Redeemer di Corcovado, Rio de Janeiro, Brazil yang badannya setinggi 38 meter. Di sepanjang Pasuruan hingga Jember, kita melihat masjid-masjid yang sudah megah tetap saja direnovasi; bahkan dengan menengadahkan tangan di jalan.

Manusia memang telah memilih jalannya sendiri: menjadikan simbol agama sebagai penebus dosa. Karena itu, di Notre Dame Cathedral, Saigon, saya justru tak bisa jenak menikmati kisah-kisah Alkitab.

Ada fresko tentang godaan yang disaputkan ke Kristus, nyaris mirip dengan karya Botticelli yang bertarikh 1481 di Kapel Sistina (Cappella Sistina ), kapel di lingkungan Istana Apostolik, hunian resmi Paus di tanah suci Vatikan.

Iblis menyamar jadi pertapa dan menggoda Kristus. Setan yang menunjuk batu dan menantang Kristus agar menyilihrupakan batu itu menjadi roti. Di sebuah kuil yang senyap, iblis berusaha mengorak keteguhan Kristus dengan gemerlap dunia yang tak tertara. Mudah diduga, Kristus akhirnya menang telak karena semua goda ditampik dan topeng setan disibak.

Agama sepertinya memang butuh semacam kisah yang heroik. Di lukisan itu, agama hanya tampak sebagai pertunjukan antara yang kalah dan yang menang, yang salah dan yang benar. Agama seakan lepas dari lipatan privat dan terjebak pada urusan klaim di mana bahasa jadi perantaranya. Sajak Dialog dengan Salibku karya Sitor merefleksikan hal itu: …(padahal) aku bukan minta sesuatu yang dapat dijelaskan dengan kata-kata manusia.

Di fresko lain, agama lebih mirip transaksi perdagangan: kau berbuat sesuatu, kau mendapatkan sesuatu. Ada surga ada neraka. Atau barangkali lebih mirip sebuah penaklukan purba: jika kau tak salat, tak rajin ke gereja; kau akan memundaki akibatnya. Lidahmu kelak akan dicincang, tubuhmu digerus setrika, punggungmu didera, atau dilempar saja ke neraka. Agama menjadi ihwal yang menyeramkan, dan karena itu ia lepas dari tugas pembebasan.

Tapi, tetap saja saya merasa ada sedikit rasa gentar. Di lorong redup di sisi kanan dan kiri katedral, di tengah bangku jemaah yang kosong melompong, iman tiba-tiba jadi sebuah pokok penting. Ada yang harus digayuh dari ayat-ayat suci itu. Ada yang harus dipacak kuat-kuat di dalam jiwa. Iman, dalam banyak konteks, memang seperti rasa cinta: ia dipertaruhkan justru ketika kita menapaki hidup yang sedang dilimbur duka. Ia dipertaruhkan justru ketika jalan sesak oleh nestapa. Saya pribadi menjalani sikap berketuhanan semacam itu.

Ibrahim adalah riwayat paling benderang untuk menunjukkan ihwal rasa cinta itu. Kisah Ibrahim mengorbankan sang anak, Ismail, saya kira bukan kisah tentang epigon yang taklid; namun kisah tentang cinta yang lugas dan terus-terang. Ibrahim tak memberi persembahan dengan gemetar, karena ia percaya bahwa Tuhan tak menuntut adanya korban.

Ada risalah gereja yang telah menjadi klasik tentang sosok Natanael, salah seorang murid pertama Yesus selain Andreas, Petrus, Yohanes, Filipus, atau Yakobus. Filipus, dikisahkan di Yohanes 1:45-51, bertemu Natanael, lalu berseru, ”Telah kami temukan sosok yang disebut Musa dalam Taurat, yaitu Yesus dari Nazaret.”

Tapi, agama, seperti rasa cinta, berangkat dari seberkas keraguan. ”Akankah kebaikan datang dari Nazaret?”

Kita kemudian tahu, cinta adalah perlawanan terhadap waktu dan rasa bosan. Semacam keteguhan yang keras kepala. Yesus menyapa Natanael, lalu duduk di bawah pohon ara. Natanael kaget. Dia belajar Yudaisme juga di bawah pohon ara.

Sejak itu ia tekun mempelajari ajaran Yesus. Ia menekuni agama bukan dengan sikap fanatik nan taklid. Natanael menjalaninya dengan buncahan rasa ingin tahu yang luar biasa.

Tapi, tentu saja cinta bukan sebentang garis lurus di peta. Natanael hidup dengan nestapa. Di ujung nafasnya, ia dikuliti. Nasibnya selungkrah Matius yang mati dilimbur pedang, Yohanes yang dimasak di kuil mendidih, Yakobus yang dipancung, atau Markus yang pernah diseret di sepanjang Alexandria.

Saya teringat kisah FX Kardinal Nguyen Van Thuan. Mantan uskup Saigon yang lahir pada 17 April 1928 ini hidupnya digodam goda. Pada 1953, ia diangkat menjadi imam, lalu pada 1967 menjadi uskup di Nhatrang. Empat tahun berselang, ia ditabalkan sebagai Uskup Agung Saigon.

Namun, aktivitas politik, terutama dalam menyuarakan HAM, mengantarkan sang uskup ke kotak penjara yang rudin. Tak sampai empat bulan sejak Saigon jatuh ke Vietnam utara, ia ditangkap dan dipenjara sejak 15 Agustus 1975 hingga 21 November 1988. Sembilan tahun terakhir ia habiskan di sel isolasi.

Tapi, rezim memang kerap silap: penjara tak akan mampu memberi demarkasi pada imajinasi. Dalam perigrinasi yang senyap, sang uskup menulis berlembar-lembar manuskrip. Di ruang penjara yang tak cukup lebar, di malam-malam yang menggigil, ia merenungi hidup, lalu menuliskannya; barangkali dengan tangan gemetar. Catatan-catatan itu lantas ia selundupkan lewat seorang bocah lugu berumur tujuh tahun. Oleh sang bocah, manuskrip itu, yang kelak dibukukan dalam The Road of Hope (diterbitkan Federasi Katolik Vietnam di AS), diserahkan ke seorang umat kepercayaan Kardinal Nguyen Van Thuan.

Di bab 36, bab yang secara khusus dianjurkan sang uskup untuk ditelaah lebih dalam, ada selarik kalimat yang begitu menggugah: jadilah garam pada hidup yang tanpa rasa. Ia menantang kita untuk berbuat, seremeh apa pun itu, untuk dunia yang secara kodrati memang akan terus-menerus didekap luka.

Rintangan yang paling kukuh untuk berbuat bukanlah sebuah benteng raksasa, juga bukan pagar listrik penuh setrum. Rintangan paling sulit, kata sang uskup, adalah ketidakacuhan, ketidakpedulian. Kardinal Nguyen Van Thuan menyodorkan cermin besar ke kita: agama mesti dipeluk dari hal-hal yang kerap kita remehkan, agama selayaknya ditakzimi lewat wajah-wajah yang sering kita abaikan.

Tapi, progress, yang menjadi mantra modernisme, kini justru memapah manusia menuju gerbang kekosongan, keterasingan, bahkan dengan dirinya sendiri. Kita abai pada kolam lele di pinggir balai desa, pada pensil yang lama tak diraut, pada cangkir besi yang lama tak diisi kopi.

Kita berwalang hati pada semua ihwal: portofolio saham yang terjun bebas, investasi yang tandas, dan peluang bisnis yang terlepas. Itu semua mengantarkan kita pada desolasi yang tak bertepi.

Dunia menjadi mesin-hasrat yang tak pernah lepas dari dahaga. Yang kita capai tahun ini harus tumbuh berlipat pada tahun depan. Peduli setan dengan orang lain. Karena itu kita dan pabrik kendaraan tetap saja menambah jumlah motor dan mobil kendati macet kian memuakkan. Laporan keuangan jadi juara dibandingkan tingkat polusi udara.

Tangis lewat. Belarasa lindap. Empati sembunyi dengan lebam yang sangat.

Lantas di manakah agama? Ketika hanya menjadi janji tentang keindahan surga dan kekejaman neraka, saya kira ia tak bisa berbuat apa-apa. Agama justru jadi bagian apokalipsme dunia yang kian ruwet ini.

Saya keluar dari katedral tepat ketika mentari berjalan sepenggal hari. Udara begitu panas. Di luar, di tepi jalan yang lebar, rindang taman kota terlihat dari seberang jalan. Ruang rumput hijau yang lapang di Reunification Palace, mungkin setengah lapangan bola, tampak jelas menawan. Saya baru saja melewati tanah lapang itu. Tapi, saat itu pula saya merasa, hidup memang tak sesederhana melintas sebuah tanah lapang. Begitu pula iman agaknya harus ditakzimi.

Nasib manusia memang tak sempurna, tapi keteguhan menjanjikan akhir cerita yang berbeda.

Printed from: http://jelangfajar.com/2010/07/yang-terlewat-dari-notre-dame-cathedral.html .
© 2012.

368 Comments   »

  • yayan says:

    pemuka agama itu yg salah.

  • Kok gak ada buku tamune to Er?

  • ame imut says:

    ndi desain futuristiknya?? ndi?? xixixixix.. weh, memaknai tulisanmu abot tenan cak! kalo mbaca malem2 pas tidur malah raiso turu... sesekali diselingi yg ringan dunk... kaya rumahputih.net hehe

  • rizal says:

    O.. pindah blog ya...

  • rendy says:

    jiah....kerennn...

  • Aq selalu menantikan oleh2 tulisan mpeyan, mas. Apik, balutan sosio-historis dipadu dengan perenungan spirituilnya berbobot dan berisi. Belajar nulis koyok ngene iki pirang tahun mas?? *jiaann ngiri dot kom aq

  • Hi,

    You know what, I have been searching for some more information on this topic, and wonder if anyone can help me out? I found this website on Google and would appreciate it if someone sends me some more links on this topic by email.

    Thanks much in advance.

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Reply

  • tapal

    ”Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana...” (Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam)