Vriska

--setahun sesudah kematianmu…

Sore ini saya melihat fotomu di Facebook milik seorang teman. Kau bertopi, berkaus dengan gambar mata yang mengintip, kaus yang setahuku menjadi favoritmu di kala SMA. Kau tertawa riang diapit dua perempuan mancanegara. Entah apa yang kau pikirkan. Dan saya tak tahu mengapa tiba-tiba saya langsung bergegas membuka laptop lalu menulis catatan. Saya menulis sangat cepat, tak lebih dari 20 menit, seperti sedang dikejar deadline yang mengerkah sekujur tubuh.

* * *

1995 yang stabil. Saya membayangkan, selepas jam sekolah, kau yang masih berseragam putih-merah bersicepat menuju Gua Ngerong di Rengel, Tuban, yang hanya sekedipan mata dari rumahmu. Mungkin kau akan menceburkan badan sejenak atau sekadar memandangi ikan yang melimpah. Saya juga kerap membayangkan, selepas upacara bendera di Senin yang gerah, kau bergegas ke balik Ngerong yang masih dipenuhi sawah dan bukit-bukit rupawan meski berkapur.

Tapi itu dulu, di masa lampau yang memukau. Kini sukmamu telah melesat, berkunjung ke tempat yang entah, yang tak tepermanai. Kau pergi barangkali tanpa meninggalkan sebiji portofolio yang patut mengharu-biru manusia: kau hanya anak muda biasa, yang hendak belajar jadi guru dengan pengabdian baru seumur jagung.

Andaikan kita tak pernah sekelas, tak pernah bolos bareng, tak pernah gila bersama, jujur saja kau hanya sekilat bayangan bagiku. Tapi mungkin karena itulah hidup menginginkan beda: ketika portofolio dalam mantra manusia modern tak lagi jadi parameter yang rigid dan pasti. Maka, yang berlaku bagi kita adalah sejenis upaya untuk melawan ringkih kehidupan modern: persahabatan yang tulus, yang abai pada pamrih, dan tangan yang senantiasa terulur.

Di hari yang tak mungkin terlupakan itu, Mei warsa lalu, di malam yang belum usai dan pagi yang malas menjelang, kau nyaman mengendarai motor. Kencang tapi tenang. Seolah semua akan baik-baik saja. Namun, hidup berkehendak lain. Seorang pengendara motor lainnya dengan kecepatan bak pembalap melabrakmu. Brakk! Keras! Kau terpelanting, menghujam aspal. Tapi kau tak mengaduh. Hanya terpejam, lalu tak sadarkan diri.

Saya sadar harapan kerap kali berkhianat. Demikian pula pertolongan yang selalu terlambat. Ambulans itu meraung, memekakkan telinga, membelah malam dengan bulan yang sebenarnya hampir purnama. Tapi semuanya terlambat. Kepergianmu tak terelakkan, kawan.

Dinihari itu kau tahu benar bahwa hidup adalah laku yang pejal. Tapi saya yakin kau menantangnya: dengan suara yang hendak teriak dan nafas yang kembang-kempis. Saya tertegun. Tapi, kita tahu hidup selalu meminta permakluman, menakzimi tapal-batas: ketika yang-jasmani dan yang-ruhani bertolak sikap. Darah masih menetes dan nafasmu kian yatim: pelan, pelan, pelan, lalu menghilang...

Vriska, kau tahu benar bahwa hidup memang kerap menjadi basilika yang bengis dengan pertumpahan darah di mana-mana. Tapi hidup juga riwayat tentang hukum alam yang tak bisa ditampik: kematian bisa datang kapan saja. Semua-muanya (harapan, kecemasan, asa, kegetiran) berbaur serupa montase. Di sanalah manusia seringkali harus menjadi soliter meski dirubung ramai yang tiada koma.

Sungguh manusia tak bisa berbuat apa-apa meski sering pongah di setiap waktu. Goenawan Mohamad menulis sajak yang sunyi tentang hal itu, sebuah sajak yang telah menjadi klasik, Kwatrin tentang Sebuah Poci:

Apa yang berharga pada tanah liat ini
Selain separuh ilusi
Sesuatu yang kelak retak
Dan kita membikinnya abadi

Tanah liat itu, konon yang menjadi asal manusia: tak ada yang berharga di sana. Ringkih dan lungkrah.

Vriska, aku tak tahu apa kau pernah membaca sajak itu atau tidak. Tapi kepergianmu menunjukkan ada getas yang tak bisa dipupur dari kehidupan ini. Tak selamanya kita berada di panggung, tak selamanya pula kita disorot kamera: hidup menuntut sesuatu yang asali, yang terus-terang dari dalam diri. Apa itu? Keterbatasan dan kematian.

Seorang karib dekatmu menangis ketika kau meninggal di hari itu. Tersedu-sedu. Airmatanya kerap dan deras. Saya tak tahu mengapa dia teramat tersedu. Saya membatin, bukankah kematian semestinya disambut tawa—justru ketika kini hidup makin memilukan dan manusia kian buta arah?

Saya membaca sejumlah kisah yang menyuarakan betapa kematian semestinya tak menakutkan dan harus diakrabi, kendati ia kerap tampil sunyi, wingit, dan misterius. Satu dari sekian kisah apik yang kubaca adalah karya klasik Korea, Dua Generasi Teraniaya, karya Ha Geun Chan. Kisah satire ini seolah ingin menubuatkan sebuah kredo bahwa hidup ini memang layak disesali. Sedangkan kematian, yang identik dengan airmata, mestinya malah disambut tawa gembira.

Vriska, kepergian memang kerap tak terduga. ”Nasib adalah kesunyian masing-masing,” tulis Chairil. Itulah mengapa Tuhan menjadikan masa depan sebagai misteri. Kita nyaris buta tentang kelak. Di matra itulah, harapan berkelindan dengan kecemasan. Masa depan ibarat kata yang berlompatan seolah tak disengaja, kebetulan, kata-kata yang datang dari resah dan ngeri, yang ogah patuh pada definisi.

Ah, Vriska, tiba-tiba saya memutuskan akhir pekan ini juga harus berangkat ke Gua Ngerong yang hanya sepelemparan batu dari rumahmu. Di sana, saya membayangkan sebuah pemandangan yang filmis: ikan-ikan yang masih melimpah, orang desa mencuci, mandi, atau sekadar membasuh muka; dua pasang kekasih bergandeng tangan; seorang pria paro baya melemparkan makanan ke kerumunan ikan; langit mendung tapi tak jua mau hujan; dan musik dangdut yang diputar keras.

Tapi saya merasa ada sederet tanda tanya yang belum terjawab di dasar kolam di gua itu: tentang kau, Vriska. Tentang kau yang tak akan pernah selesai dan senantiasa terpacak kuat di hati.

Printed from: http://jelangfajar.com/2010/07/vriska.html .
© 2012.

137 Comments   »

  • anang says:

    thanks ri'....tulisanmu mengingatkan memoriku atas kawan kita: vrieska "badak" handiyanto.

  • fendy says:

    Udah dehh kawan eri..ga usah nulis yang kayak beginian lagi...

  • admin says:

    Cak Fen, ini tulisan lama. Sengaja kuunggah lagi. Gimana Bandung? :p

RSS feed for comments on this post , TrackBack URI

Leave a Reply

  • tapal

    ”Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana...” (Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam)