Mencintaimu itu seperti mencintai sebuah kehilangan.
Pagi itu di Angkor Wat, saya merasakan betul kecemasan yang kian menderu. Setelah membelah jalanan pagi yang senyap, dari penginapan di pinggiran Siem Reap, di utara Kamboja, saya menapaki Angkor Wat dengan masygul.
Matahari baru saja muncul, menyembul di antara celah-celah stupa. Segelintir wisatawan mengambil gambar di momen syahdu itu.
Saya duduk termenung di pinggir kanal air yang mengelilingi kompleks candi ini. Saya tatap sinar redup itu dalam diam. Momen semacam ini selalu membuat saya sedikit emosional: mencintaimu dalam kebisuan yang kronis, seperti selarik epitaf di kubur pahlawan tak bernama.
Setahun silam kita bertemu kali pertama, di awal tahun yang aneh, dalam perjalanan panjang dari kota ke kota yang membuat saya banyak muntah karena masuk angin. Dalam pertemuan yang tak banyak diisi kata itu, diam-diam saya berjanji untuk memberimu hadiah sederetan karya pengarang besar yang punya tempat khusus di hati saya. Saya juga berjanji akan menulis surat-surat yang panjang untukmu.
Tapi janji itu tak terpenuhi. Saya tak seheroik dan tak seedan Florentino Ariza di kisah Gabriel Garcia Marquez yang fenomenal itu. Florentino seorang perayu ulung, tapi saya tidak. Saya juga bukan pemain biola dan bukan penghafal puisi yang berbakat.
Saya lebih banyak berjalan, dan kau pulang ke kota nun jauh di sana. Oh, Marquez, Pramoedya, Putu Wijaya, Octavio Paz, Chinua Achebe, Pamuk, Kawabata, Yukio Mishima, Kafka, Hemingway; karya-karyamu masih berjejer rapi di rak bukuku.
Kita tak banyak bertemu. Tak ada kata, tentu saja. Saya tak tahu apakah saya menyesal karenanya atau justru bergembira sebab jarang menjumpaimu. Tapi, kini dalam syahdu Angkor Wat, saya akhirnya tahu: mencintaimu itu seperti mencintai sebuah kehilangan.
Di fajar yang menggigil ini, saya merapal dengan lirih sajak berumbul Stranger karya penyair Yaman, Mansur Muhammad Ahmad Rajih. Sajak ini kerap saya baca dalam suasana penuh kegilaan:
Past: Sorrow
Present: Oh
The future comes into view
like a cloud in the horizon of travel
and I am strange, like the impossible
Dan hari terasa kian pendek. Matahari sudah sepenggal hari. Saya harus bersiap melanjutkan perjalanan darat dari Siem Reap ke Bangkok.

buat saya saja bukunya. :p
eri sayaaang..(Ge er ya??)
tulisan ini kan sdh di upload di FB?knp aq disuruh baca lagi?????semakin nganeh2i pancene adekku siji iki!
tak masalah. biar seru. :p