"Bajingan-bajingan itu sungguh-sungguh telah datang: sebuah buldoser dan dua van penuh polisi bersenjatakan lathi dan tabung gas airmata."
Hasari, penarik angkong yang bersahaja itu, adalah cermin sempurna sebuah nadir kehidupan. Kita tahu, selain kadang menjual darah untuk makan, ia bahkan menjual kerangka tubuhnya yang jauh dari sehat itu sebelum ia mati demi menikahkan putri sulungnya, Amrita. Ia bersetia dalam agamanya yang menitahkan tugas suci seorang ayah untuk menikahkan putrinya.
Hasari adalah wajah yang coba diselinapkan, yang tak ingin digembar-gemborkan: paaras kota yang tak selamanya dipenuhi lampu yang berkelip ria. Di majalah National Geographic edisi Mei 1997, jika saya tak salah ingat, terdapat sebuah potret besar Calcutta di mana para penarik angkong harus bergelut dan bertaruh nyawa di jalanan; menyelinap di antara terjangan bus dan wajah cadas sebuah kota.
Tapi kali ini bukan di Calcutta, melainkan di Surabaya. Siti Khoiyaroh, 4 tahun, wafat Mei warsa lalu. Ia pulang (atau berangkat?) diantarkan kuah mendidih dari gerobak bakso ibunya, sesuatu yang memberinya kadang potongan gambar bongkar-pasang kadang kembang gula, tapi yang pasti tak pernah memberinya Boneka Barbie atau DVD Narnia.
Ini adalah tragika paling perih: gerobak bakso yang memundaki beban hidup keluarga malang itu justru menjadi "sakramen" yang memberi jalan pertemuan antara Khoiyaroh dan Yang-Maha-Segala di sana.
Khoiyaroh meninggal setelah gagal melewati masa kritis kedua akibat 67% tubuhnya dilimbur luka bakar kala aparat Satpol PP dengan kebengisan paling menjijikkan mengorak gerobak bakso orangtuanya di seputaran Jalan Boulevard, WTC, yang hanya sekira 200 meter dari kantor wali kota Surabaya. Gerobak terjatuh dan bocah lugu itu pun mandi kuah panas. Pejabat pemerintah kota membawa uang Rp 35 juta sebagai tanda duka--sungguh, betapa murah harga sebuah nyawa di Surabaya!
Kita sendiri terkadang juga menikmati kuah panas bakso. Tapi, di depot atau restoran sambil membaca koran atau mengutak-atik laptop. Tentu saja dengan tambahan saus, kecap, dan es kelapa muda. Tapi, Khoiyaroh tidak. Ia benar-benar menikmati kuah mendidih itu untuk mengantarkannya ke pelukan Tuhan. Rasanya Tuhan terlalu sayang kepadanya, hingga Dia pun tak mengizinkan Khoiyaroh berlama-lama melihat dunia yang kian lebam dan bopeng ini.
Chairil Anwar pernah menulis "Tuhanku/dalam termangu/ku sebut namuMu/biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh//di pintu-mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling" di sajak Doa yang masyhur itu (sebuah sajak yang, bagi saya, lebih terasa seperti lelah memohon; berbeda dengan sajak-sajak Chairil lainnya yang terasa lebih pongah dan nyaris kepala batu). Tapi, Khoiyaroh tak perlu mengetuk pintu itu. Sebab, Tuhan "tak bisa berpaling dari dirinya", lalu Dia ajak ia ke rumah-Nya tanpa harus mengetuk pintu--malah sudah dihamparkan karpet merah di sana.
Di Surabaya, juga di hampir sekujur tubuh dunia, Humanisme mungkin telah kehilangan tempatnya. Ia, yang menjadi bahasan pokok di sepanjang roda perkembangan filsafat, juga agama-agama, kini memuai entah ke mana.
Lantas, di manakah agama(wan)?
Tak perlu kita menjawabnya dengan kata yang nanti malah bikin sesak dada. Berjalan-jalanlah, lalu tumbuk matamu pada gubuk rudin yang masih membujur di sekujur kota, tak jauh dari tiang-tiang masjid yang ditegakkan memeluk langit seolah Tuhan ada di langit--bukankah Tuhan ada di mana-mana, juga di peraduan kumuh para penderita lepra, misalnya? Manusia toh lebih suka kaligrafi indah di ruang tamu atau naik haji berkali-kali daripada hadir menjawab kontradiksi umat.
Darah leleh dari luka yang menganga, begitu pula airmata; tapi gereja-gereja tambah megah dengan kursi yang kian lengang. Manusia telah memilih jalannya sendiri: menjadikan Yesus lebih riang mendekap langit daripada memeluk kusta dan derita. Maka, kita pun melihat monumen Yesus Memberkati yang tertinggi kedua di dunia dipancangkan di republik ini: setinggi 50 meter di landasan seluas 20 meter, dengan badan patung setinggi 30 meter. Monumen di Manado itu hanya kalah dari patung Christ The Redeemer di Corcovado, Rio de Janeiro, Brasil yang badannya setinggi 38 meter--yang pernah ditulis Goenawan Mohamad sebagai "rapi dan apik, tapi tanpa pathos".
Khoiyaroh adalah kaca benggala bagi kita semua. Ia memberi kita sebuah cermin besar di tengah zaman yang tergesa dan kota yang durhaka. Ia seorang martir kemanusiaan. Penderitaan, baginya, adalah riwayat, dan dengan demikian mengeram dalam diri serta tak perlu ditangisi.
Viktor Frankl mengeluarkan sebuah tesis tentang "makna penderitaan"--sebuah terminologi yang menghenyakkan kita, tentu saja. Penderitaan, demikian Frankl, bermakna imanen, bahkan sebuah prestasi: dari dalam-dirinya kita akan menjumput senarai makna. Ada jarak antara "korban" dan "penderitaan". Di jarak itulah makna, sejauh yang saya pahami, bisa disabet bukan saja oleh sang korban tapi juga bukan-korban, bahkan aktor yang mendesain penderitaan korban.
Tetapi, pertanyaannya, mengapa harus Khoiyaroh? Mengapa pula derita harus dipundaki Sugiono, kuli bangunan yang anaknya, Wulan, menderita hidrosefalus?

tragis...salam kenal.
Ketawa miris maksudnya.