Bunga Mawar di Dadanya (1)

–perbincangan dengan perempuan yang dilacurkan.

Aku menemuinya dalam gelap, kala bulan di langit berwujud tak lengkap.

Namanya Rina. Hanya Rina. Setidaknya begitulah dia memperkenalkan diri kepadaku. Rambutnya tergerai lurus sebahu. Lumayan tinggi badannya, mungkin sekira 160 cm. Berat tubuhnya proporsional dengan tinggi badannya. Umurnya aku tak tahu pasti. Mungkin 30 tahun. Read the rest of this entry »


Merdeka

DAN AGUSTUS pun kembali datang. Dan pertanyaan-pertanyaan itu kembali terdengar, meski klise: benarkah kita sudah memangku kemerdekaan? Benarkah kita sudah merdeka?

Pertanyaan soal hakikat kemerdekaan adalah gambaran penting kehidupan kita hari ini. Pertanyaan itu tak hanya menghadirkan fakta brutal tentang berbagai permasalahan republik ini di bidang ekonomi.

Perkara yang lebih penting adalah defisit kebudayaan yang sangat besar dalam laku keseharian kita semua. Read the rest of this entry »


Kartu Pos

UNTUK kesekian kalinya, kiriman kartu pos dari seorang teman tiba di rumah. Beberapa teman sangat hobi mengirim kartu ke saya: London, Missouri, Yogyakarta, Hanoi, Makassar, Medan, atau Tokyo. Berlatar danau, gunung, air terjun, gereja, sampai burung dara. Beberapa saya simpan, beberapa lagi belum sempat terdokumentasi dengan rapi.

Saya sendiri tak hobi berkirim kartu pos. Pernah kuniati untuk rutin mengirim kartu pos saat singgah di sebuah tempat, tapi selalu saja niat itu gagal terwujud. Mungkin saya malas. Mungkin saya memang tak sungguh-sungguh berniat. Mungkin saya juga tak berjiwa seni. Lagipula, apa urgensinya? Read the rest of this entry »


Goa

Patung Made Byasa

MADE BYASA menggali tanah berbatu kapur itu tanpa kenal lelah. Lima belas tahun lamanya, mulai 1961 hingga 1976. Dimulai ketika usianya 72 tahun hingga 87 tahun. Usia yang tentu saja tak muda untuk urusan menghujamkan linggis ke tanah berbatu kapur.

Byasa seorang pertapa, dalang, dan petani. Tapi mungkin ia juga seorang seniman. Di liang ini, di Goa Gala, terdapat relief tentang proses pembuatannya. Sedikit kabur, tak jelas, beberapa sudah terkikis dimakan usia. Yang agak sedikit tampak adalah gambar manusia, gajah, kura-kura, dan gores pintu. Seorang penduduk lokal yang kutanyai menjelaskan maknanya dengan merujuk pada penanggalan Hindu. Gambar-gambar itu merujuk pada 1898 tahun Saka, yang berartu tahun 1976 pada kalender Masehi. Read the rest of this entry »


Siami

PADA MULANYA adalah ikhtiar untuk berbuat jujur. Namun, ia tak bermuara pada jalan yang mudah dilewati, tapi malah harus menemui jalan gelap nan berkelok. Itulah yang kini dihadapi dan dialami oleh Ny Siami, ibu bersahaja yang menyita perhatian kita dan media massa dua pekan terakhir.

Berikhtiar mengungkap fakta brutal ”konspirasi” lewat mata rantai contek-mencontek dalam ujian di sekolah anaknya, Ny Siami justru ditempatkan dalam posisi pesakitan. Ia justru dihujat, didemo, dicaci-maki, hingga diusir dari kediamannya oleh mayoritas orangtua siswa yang entah memakai logika apa hingga mampu melakukan perbuatan menyedihkan itu.

Fenomena Ny Siami menunjukkan kepada kita betapa sikap antikejujuran tidak hanya telah menyebar ke sekujur tubuh masyarakat, tapi juga telah menjadi patologi sosial yang akut dan teramat susah disembuhkan. Kita telah kehilangan definisi tentang arti kejujuran, tentang arti kerja keras sebelum mencapai tujuan.

Ny Siami merepresentasikan sebuah fakta bahwa kita telah memasuki ”zaman edan”. Aksioma ”jujur tambah ajur (hancur)” menjelma menjadi fakta brutal nan pahit yang harus kita telan hari ini.

Proyek manusia Indonesia, yang antara lain banyak diwarnai oleh kehadiran lembaga agama, telah hancur dan lebur menjadi serpihan-serpihan yang menguras air mata. Read the rest of this entry »


Agar Matahari Tak Tenggelam di Republik

FOTO BESAR Sri Mulyani Indrawati terpampang besar di atas panggung dengan kutipan kalimat ”Indonesia yang bermutu memerlukan pemerintahan yang jujur dan bersih”. Lagu ”Indonesia Raya” dinyanyikan dengan semangat, meski tak sampai separuh dari jajaran tempat duduk di Rumah Makan Taman Sari Surabaya itu terisi.

Minggu (22/5/2011) pagi, deklarasi Solidaritas Masyarakat Indonesia untuk Keadilan (SMI Keadilan) Jawa Timur digelar. Hadir Sekjen DPN SMI Keadilan Donny Ardyanto dan sejumlah penggagas SMI Keadilan seperti Rocky Gerung, Robertus Robet, Susy Rizky, dan Sony Tan. Namun, Wimar Witoelar yang semula direncanakan datang, batal hadir. Wimar menyampaikan ucapan selamat lewat video.

Saya tahu gerakan ini tak punya gizi kuat karena tak didukung cukong kelas kakap—justru ketika kita hidup dalam budaya politik uang. Saya tahu gerakan ini seperti mimpi di siang bolong, majenun, dan mungkin terasa konyol: menawarkan etika publik di tengah dunia politik yang hanya berisi rangkaian mala.

Tapi di setiap kemustahilan, hidup kerap menghadirkan banyak keajaiban. Gerakan ini direspons banyak orang, meski tak ada yang dijanjikan secara materi. Gerakan ini tumbuh dari kesadaran merawat dan menyelenggaran republik dengan tulus, dan dengan demikian kita paham bahwa Indonesia belum selesai. Kemanusiaan masih bisa diselamatkan: tak selamanya yang culas bisa mendekap tampuk kuasa. Read the rest of this entry »


Mandangin

SETIAP KALI melintasi laut lepas, yang terpikir oleh saya adalah novel The Old Man and the Sea-nya Ernest Hemingway. Kisah klasik tentang pergulatan hidup seorang nelayan tua yang bertarung melawan ikan marlin gahar itu, bagi saya, tak hanya menyebarkan aroma pertarungan hidup yang pekat; tapi juga kepasrahan pada hidup.

Tiap-tiap kita sadar bahwa hidup kadang harus dijalani dengan dua sikap yang berseberangan secara diametral: ngotot dan pasrah. Kita melawan hidup sekaligus takluk di dalamnya. Pada akhirnya yang melegakan justru bukan cita-cita, tapi sikap syukur menerima kenyataan yang bukan cita-cita.

Sabtu lalu, 16 April 2011, saya singgah di Pulau Mandangin, Madura. Pulau ini terengkuh setelah berlayar dengan kapal tongkang tak cukup besar selama sekira 60 menit dari Dermaga Tanglok di pinggiran Sampang. Dengan luas 1.650 kilometer persegi, jumlah penduduk pulau ini sekitar 18.000 jiwa. Read the rest of this entry »


Urip

(maksumpriangga.com)

SESEORANG YANG PERCAYA bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang ”tertua dari seni, termuda dari ilmu pengetahuan”, pastilah ia seorang yang mengimani betapa terbatasnya jangkauan manusia terhadap kehidupan.

Kredo itu, ”tertua dari seni, termuda dari ilmu pengetahuan”, diungkapkan Samuelson di buku Economics, buku yang telah menjadi klasik di kalangan penekun studi ekonomi. Kredo itu dipakai Samuelson untuk menggambarkan betapa perkasanya ilmu ekonomi, sebagai ”ratu ilmu-ilmu sosial”, sebagai ilmu yang berurat-akar di setiap depa kehidupan.

Namun, apakah dengan demikian ilmu ekonomi telah ”selesai” dan mampu membereskan semua persoalan hidup? Nyatanya tidak. Meski semua-mua masalah berkelindan dengan ilmu ekonomi, tak lantas ia menawarkan jalan keluar yang ampuh untuk mengamputasi problem.

”…ilmu ekonomi tak menggaransi orang untuk menjadi jenius,” kata Samuelson. Read the rest of this entry »


Korupsi dan Sepak Bola Kita

DESAKAN PERUBAHAN mendasar di tubuh PSSI kembali terdengar nyaring. Selain persoalan minimnya prestasi, satu hal yang paling disorot publik tentang rezim PSSI saat ini adalah meruyaknya dugaan suap dan korupsi APBD.

Satu kasus dugaan suap terbaru yang kian membuktikan kebobrokan sepak bola kita terungkap dalam persidangan korupsi Rp 1,78 miliar APBD 2008-2009 untuk Persisam Samarinda. Di persidangan terungkap, pengurus PSSI diduga menerima dana dari manajer Persisam Aidil Fitri.

Elit PSSI yang disebut menerima dana itu adalah Ketua Umum PSSI Nurdin Halid (Rp 100 juta), Ketua PT Liga Indonesia Andi Darussalam (Rp 80 juta), dan Deputi Sekjen PSSI Hamka Kady (Rp 25 juta). Dana Rp 600 juta juga mengucur ke Iwan Budianto. Dana itu diduga sebagai suap, meski mereka membantah dengan berbagai alasan. Faktanya, Persisam memang berhasil melaju ke Liga Super dan tercatat sebagai tim yang paling sering mendapat penalti-penalti kontroversial.

Belakangan muncul pernyataan dari manajemen Perseba Bangkalan bahwa mereka juga pernah menyuap Direktur Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) Iwan Budianto dan Mantan Ketua Umum Pengprov PSSI Jawa Timur Haruna Soemitro. Ironisnya, nama-nama yang diduga terlibat kasus itu malah lolos, baik sebagai kandidat ketua umum maupun komite eksekutif PSSI. Read the rest of this entry »


Kita dan Nurdin Halid

HARI-HARI INI, berbagai ruang di republik ini, dari yang privat sampai yang publik, dijejali berita kisruh rezim Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di bawah kekuasaan Nurdin Halid.

Semua orang tiba-tiba merasa suci, peduli, dan ikut mencaci-maki PSSI. Anggota DPR yang sebelumnya tak pernah terlibat dan tahu-menahu soal sepak bola, tiba-tiba berkomentar bak nabi soal perbaikan sepak bola di koran, televisi, dan radio. Elite-elite partai memanfaatkannya untuk mendulang popularitas dengan tiba-tiba peduli kepada sepak bola. Rakyat bersorak-sorai dalam satu barisan mengamini teriakan para politisi.

Kita memang kelewat gampang lupa. Problem mental dan kebudayaan ini membuat kita hanya ikut arus sana-sini. Mayoritas dari kita hampir-hampir mengamini teriakan orang yang tiba-tiba sok reformis tanpa pernah mengecek bagaimana kiprah orang tersebut sebelumnya. Banyak pahlawan kesiangan yang kerap kita anggap sebagai juru selamat. Ujung-ujungnya, publik yang akhirnya kena tipu.

Kita juga nyaris lupa untuk bertanya: mengapa Nurdin Halid begitu bebal tak mau mundur dari PSSI meski suara miring terus bergemuruh? Atau jangan-jangan kisah Nurdin Halid adalah cerminan keseharian kita? Read the rest of this entry »



  • tapal

    ”Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana...” (Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam)